Semarang, Indonesia ibuprofesionalsemarang@gmail.com

Senin, 22 April 2019

#CelotehEmak: Mom, Lets Learn To Be A Good Finance Manager



Sebagai seorang ibu, kita tidak hanya berperan sebagai pendidik utama anak-anak, namun juga memiliki peran-peran penting dan strategis lainnya, salah satunya yaitu sebagai manajer keuangan. Manajer keuangan keluarga tentu saja tatarannya sudah lebih tinggi dari kasir. Kasir diartikan sebagai orang yang menerima dan mengeluarkan uang, sementara tugasnya manajer keuangan lebih dari itu. Manajer keuangan diharapkan bisa mengelola dan mengatur keuangan keluarga dengan sistematis dan baik sehingga akan berada dalam titik sehat dan aman.


Namun perlu diakui bahwa menjadi manajer keuangan keluarga tidak semudah membayangkannya. Tentu saja bukan berarti tidak bisa dipelajari kan? Yuk, belajar bareng-bareng cara mengelola keuangan keluarga!

1. Jadilah Pahlawan Terbaik bagi Keuangan Keluarga

A. Catat dan Atur Gunakan Metode Paling Tepat



Jangan pernah berharap hidup dari belas kasihan orang lain. Apalagi berkhayal bahwa uang akan turun dari langit di pangkuan kita sehingga tidak akan merasa pusing lagi dengan masalah keuangan sehari-hari. Jadi, penting bagi seorang ibu untuk memiliki ilmu dan menggunakan ilmu tersebut sebagai bekal untuk mengelola keuangan keluarga.

Kita telah menuju 50% kemenangan ketika telah berhasil membuat perencanaan yang matang. Begitu juga dalam mengatur keuangan, merencanakan anggaran adalah hal penting yang harus dilakukan. Kita bisa mencontek tips dari emak-emak zaman old yang begitu telaten soal anggaran keluarga, ada yang rajin mencatat di buku cash flow, kalau zaman sekarang bisa menggunakan excel biar gampang menghitung, dan ada juga yang menggunakan beragam amplop untuk membedakan pos-pos anggaran tertentu. Tidak ada rumus baku soal ini, pilih saja teknik yang paling pas untuk diri kita. Namun ada setidaknya dua metode yang bisa diterapkan:

Metode 50-30-3-10



50% dari pendapatan digunakan untuk pos biaya hidup. Pos ini paling fleksibel digunakan.
Katakanlah pendapatan dalam sebuah keluarga adalah sebesar Rp. 4.000.000. Maka, kebutuhan maksimum untuk pos biaya hidup adalah Rp. 2.000.000 alias 50 % dari total pendapatan. Sebagai contoh, jika sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan 1 anak, maka rincian pengeluaran untuk biaya hidup sehari-hari adalah sebagai berikut;

Biaya makan : Rp. 900.000 ( Rp. 10.000 x 3 orang x 30 hari )
Biaya belanja bulanan : Rp. 400.000
Transportasi : Rp. 300.000
Pulsa : Rp. 200.000
Biaya listrik & air : Rp. 200.000

Pos tagihan yang besarnya 30 % dari pendapatan. Pos ini wajib dan tidak boleh diganggu gugat.


Untuk urusan cicilan dan juga tagihan, alokasikan 30 % dari pendapatan. Pos ini sifatnya wajib dan tidak boleh diganggu gugat. Karena jika tidak, yang ada tagihan bisa membengkak dan justru makin besar nominalnya pada bulan-bulan berikutnya. Dalam kasus besarnya pendapatan adalah Rp. 4.000.000, maka ada dana sebesar Rp. 1.200.000 untuk pos ini. Berikut ilustrasi yang bisa dipakai;

Premi asuransi : Rp 153.000 (asumsi BPJS kelas 2 untuk 3 orang @Rp 51.000,00)
Cicilan rumah : Rp 1.000.000 (asumsi KPR 15 tahun)

Pos dana investasi/tabungan dengan besar 10 %. Demi masa depan, para ibu harus keras kepala untuk pos yang satu ini. Siap-siap kencangkan ikat pinggang!

10 % dari pendapatan Rp. 4.000.000 memang ‘hanya’ Rp. 400.000. Namun, jika kita rutin dan keras kepala untuk selalu menyisihkan sebagian pemasukan untuk pos investasi, lama-lama tentu saja jadi bukit. Hal ini sama pentingnya dengan pos lainnya. Mengingat pos ini bisa digunakan sebagai dana pendidikan anak, liburan di akhir tahun, bahkan bisa digunakan sebagai modal jika ingin membuka usaha. Jadi, pastikan pos ini selalu terisi setiap bulannya ya!

Sisanya yang 10% digunakan untuk pos dana sosial. Uang arisan sampai kado untuk teman yang menikah.

Sisanya, yaitu 10 %, digunakan untuk pos sosial atau dana darurat. Pos ini fungsinya untuk membiayai kado pernikahan kerabat, dana arisan, atau juga digunakan jika ada kejadian emergency yang menimpa kita maupun keluarga dekat. Jika ada kebutuhan mendadak di luar pos-pos yang sudah disebutkan di atas, pos inilah yang paling mungkin untuk diutak-atik.

Metode 1-1-1 



Formula 1-1-1 merupakan rumus mengatur keuangan dari sahabat nabi, Salman Al Farisi. Diriwayatkan bahwa beliau memiliki uang sebanyak 1 dirham untuk digunakan sebagai modal membuat anyaman yang dijual seharga 3 dirham. Kemudian, pendapatannya tadi kemudian dibagi; 1 dirham untuk keperluan keluarganya, 1 dirham untuk sedekah dan sisanya 1 dirham untuk digunakan sebagai modal kembali.

Konsep ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan membagi tiga pendapatan yang diperoleh. 1/3 untuk digunakan kebutuhan sehari-hari, 1/3 untuk bersedekah dan sisanya untuk keperluan modal lagi.



B. Berhemat Sekarang dan Belanjakan Nanti

Kesalahan para ibu dalam mengelola keuangan adalah mengerem sikap boros. Sudah fitrahnya perempuan suka keindahan dan hal-hal bagus, maka begitu melihat gamis dengan model terbaru atau buku untuk anak terbaru, mata langsung terbelalak, jantung berdegup kencang dan tangan mulai gatal membuka dompet atau menggesek ATM. Namun di situlah tantangannya, bisakah kita mengendalikannya?

Itulah kenapa di dua metode anggaran di atas, kita tidak diminta menabung di saat ada uang sisa, namun mengalokasikan uang untuk menabung atau investasi itu dengan cara menyisihkannya di awal.

C. Berpikir Baik-baik Sebelum Membuat Keputusan Besar

Seringkali kita tergiur dengan asuransi A, B hingga Z, atau kepincut ingin membeli buku premium yang harganya berjuta-juta dengan metode arisan. Tentu saja itu boleh dilakukan, namun hal-hal tersebut termasuk dalam membuat keputusan besar di dalam keuangan keluarga, maka sudah sepatutnya kita memikirkan baik-baik. Adakah anggaran lebih untuk hal tersebut? Apakah suami setuju? Jangan sampai pengeluaran kita nantinya besar pasak daripada tiang.


D. Bersedekah dan Jangan Berhutang!

Hal penting lainnya yang harus selalu dijaga yaitu sucikan pendapatan/ kekayaan keluarga dengan berzakat, berinfaq ataupun bersedekah. Ada hak orang lain di dalam harta yang kita miliki. Dengan menyucikan harta kita, insya Allah harta akan menjadi lebih berkah dan manfaat.

Selain bersedekah, hal yang harus dicamkan yaitu hindari berhutang. Berhutang akan membuat hidup terasa lebih sempit dan terbebani. Meski ada yang bilang jika hutang untuk hal-hal produktif itu sah-sah saja, namun tentu akan lebih baik jika kita menghindarinya. Apalagi jika hutang tersebut ada ribanya, bagi beberapa teman muslimah, sudah pastinya mulai menghindari hal ini kan?




2. Kenali “Saya Ingin” vs “Saya Butuh”

Penting sekali mengenali bedanya antara keinginan dan kebutuhan. Seperti di sub bab bagian B di atas, perempuan seringkali gelap mata jika melihat barang bagus, apalagi diskonan di mana-mana. Namun kembalilah bertanya dalam hati paling dalam, benarkah kita membutuhkannya atau hanya sekedar ingin saja?

Sebuah tips sederhana dari seorang teman, “Jika kau tertarik pada suatu barang, jangan langsung dibeli saat itu juga. Tunggu dulu selama dua minggu, jika dalam dua minggu itu barangnya masih ada, hatimu pun masih bergejolak saat melihat barang tersebut, uang yang mau digunakan untuk membeli pun tersedia, maka barang itu ditakdirkan untukmu.”
Dalam dua minggu akan ada banyak hal terjadi, keinginan pada barang tersebut perlahan lenyap, barang yang kita incar sudah habis, atau uang yang tadinya mau kita gunakan ternyata sudah digunakan untuk keperluan lain. Ketika ini yang terjadi, artinya barang yang kita inginkan bukanlah jodoh kita.




3. Rezeki Itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari

Beberapa sumber mengatakan bahwa meskipun menjadi ibu rumah tangga, sebaiknya perempuan tetap memiliki uangnya sendiri. Namun tidak semua perempuan saat ini memiliki kesempatan untuk memulai bisnis atau membuka usaha. Lalu bagaimana? Ingatlah mantra yang selalu diucapkan oleh ibu Septi Peni, 
“Rezeki Itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari.”
Saat anak-anak masih kecil dan belum bisa ditinggal, rasa-rasanya membagi waktu antara momong anak dan mengurusi bisnis bisa jadi sangat menantang. Ada orang yang memang sudah mengenal passion dan handal dalam manajemen waktu, sehingga keluarga dan usahanya bisa berjalan berdampingan. Jika sekarang kita belum bisa seperti itu, sabarlah. Akan ada waktu yang tepat nantinya. Fokus pada prioritas utama saat ini, bukankah mengasuh anak juga merupakan profesi dan sebuah usaha yang membutuhkan ketelatenan yang luar biasa. Tiada yang tak mungkin bagi Allah, dari kesungguhan kita merawat anak-anak, bisa jadi pintu rezeki akan mengalir dengan lancar lewat suami.

Tentu saja PR bagi kita untuk tetap mengenal dan menemukan passion, hingga one day kita bisa menjalankan passion itu tidak hanya sekedar sebagai hobi, namun juga sebagai salah satu sumber rezeki.

Janganlah khawatir, Allah tidak akan pernah membuat hamba-hambaNya kekurangan, Ia akan selalu mencukupkan semua keperluan hambaNya. Yang harus kita lakukan hanyalah berikhtiar sebaik mungkin, sisanya biar Allah yang atur! Selamat berproses menjadi manajer keluarga.

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. [Ath-Thalaq/65 : 3]


Sumber referensi:

https://www.cermati.com/artikel/ini-dia-cara-islam-mengatur-keuangan-agar-hidup-barokah 
https://www.moneysmart.id/jangan-remehkan-tips-ibu-ibu-zaman-dulu-dalam-mengatur-keuangan-keluarga
https://www.hipwee.com/wedding/cara-atur-4-pos-keuangan-rumah-tangga-dengan-prinsip-50-30-10-10-apa-itu-tagihan-membengkak-nggak-kenal/





0 comments:

Posting Komentar

Salam Kenal



Perkenalkan kami
Komunitas Ibu Profesional Semarang, blog ini berisi tentang informasi kegiatan dari komunitas kami juga beberapa artikel berkaitan dengan
women empowerment dan parenting.

Untuk bekerjasama dan informasi lebih lanjut bisa menghubungi kami di ibuprofesionalsemarang@gmail.com.

Popular Posts