Semarang, Indonesia ibuprofesionalsemarang@gmail.com

Senin, 29 April 2019

#CelotehEmak: Mom Shaming? Hempaskan Sajaaah!


Topik diskusi kita di #CelotehEmak hari ini yaitu tentang mom shaming. Ada yang pernah mendengar tentangnya? Atau mungkin tanpa sadar kita pernah melakukannya atau justru menjadi korbannya?

Anaknya umur berapa? Kok kurus banget. Ibunya males nih.
Kok dikasih SUFOR, ibunya nggak mau berusaha nih.
Halah ASInya encer gitu, gizinya kurang.. disufor aja.
Lo lahirannya sesar? Wah belum jadi perempuan sempurna kalau belum ngrasain lahiran normal.
Anak kok dititipin daycare, apa nggak kasihan
Dasar lemah iman, kalau kuat imannya ya nggak mungkin post partum depression.
Kurang tokcer nih, udah nikah lama kok belum hamil juga.
Ya Allah, itu anaknya nggak diajarin sopan santun, sama orangtua kok nggak diajarin salaman.
La digendong terus, pantesan anaknya manja.

Dan masiiiih banyak lagi ungkapan demi ungkapan yang kadang terlihat dan terdengar sepele, tapi bisa jadi menyakitkan buat diri kita/ orang lain yang mendengarnya.

Bahkan tak jarang, banyak ibu kemudian mengalami depresi berkelanjutan karena terus-terusan mengalaminya.

Apa sih Mom Shaming?

Mom shaming adalah istilah yang merujuk pada usaha memalukan ibu lain sehingga membuatnya merasa bersalah. Membuatnya merasa apa yang dilakukannya terhadap anaknya tidak benar. Awalnya mom shaming ini ditujukan pada ibu-ibu yang terkenal, entah itu sosok public figure atau selebgram. Namun semakin ke sini, mom shaming bisa dilakukan pada siapa saja.

Jenis Mom Shaming

Ada banyak cara melakukan mom shaming, namun jika ditelisik lebih dalam setidaknya ada dua jenis mom shaming:

1. Mom Shaming yang Disengaja

Jenis yang ini biasanya dilakukan karena rasa iri atau tidak suka kepada korban.

2. Mom Shaming yang Tidak Disengaja

Sementara jenis yang ini biasanya tidak disengaja dilakukan. Sebenarnya pelaku hanya ingin memberikan masukan atau saran kepada sang korban, namun dilakukan dengan pilihan bahasa yang tidak tepat dan malah menyakiti hati korban.

Fakta Mom Shaming


Perempuan lebih cenderung kejam kepada sesama perempuan, kenapa ya? Bahkan banyak yang menghindari SPOG perempuan dikarenakan banyak yang mulutnya lebih pedas dibanding SPOG laki-laki.

Profesor bidang psikologi di University of Texas, Art Markman PhD, sekaligus penulis buku 'Brain Briefs' memaparkan adanya bukti secara ilmiah dan sejarah yang menunjukkan bahwa manusia dalam kelompok sosial, seperti ibu-ibu dengan anak di usia yang sama seakan meraih posisi yang lebih tinggi dengan mengganggu manusia lain dalam kelompoknya.
Studi yang dibuat oleh peneliti di Simon Fraser University mengungkap, pelaku perisakan biasanya memiliki status sosial yang tinggi. Mereka juga cenderung tidak dalam kondisi depresi atau cemas. Hal tersebut dikaitkan Markman dengan fakta bahwa seorang narsis yang sukses akan mengelilingi diri mereka dengan manusia yang bisa meningkatkan kepercayaan dirinya. Lalu ia akan menggunakan kekuatannya untuk menjaga diri dalam posisi teratas di kelompok.
Berdasarkan sebuah survei di rumah sakit anak di University of Michigan yang dikutip dari Livescience, tindakan mom shaming justru paling banyak dilakukan anggota keluarga. Dari 475 ibu dengan anak usia di bawah lima tahun yang disurvei, sebanyak 37 persen pernah menjadi korban mom shaming dari orang tuanya sendiri. Sebanyak 31 persen melaporkan kritik dari mertua, 36 persen menjadi korban mom shaming pasangan sendiri. Umumnya kritik terbesar terkait pola pendisiplinan anak. Secara keseluruhan survei menemukan 61 persen ibu dengan anak balita mengaku pernah dipermalukan dalam urusan mengasuh anak.
Aplikasi mom.life mengungkapkan fakta bahwa sekitar 79 persen ibu pernah mengalami "mom-shaming" dari ibu lain. Korbannya tak hanya pada ibu-ibu muda yang baru mempunyai satu anak. Ternyata ibu-ibu yang telah mempunyai beberapa anak pun tak menutup kemungkinan menjadi korban.

Dari penelitian ini, maka tak heran jika pelaku mom shaming biasanya dari kelompok-kelompok sosial yang lebih tinggi status sosialnya, merasa memiliki anak yang lebih tua, merasa sudah berpengalaman menjadi ibu, atau merasa memiliki ilmu parenting yang lebih baik. Hmm, jangan sampai ya kita menjadi pelaku-pelaku mom shaming, ladies. Semoga ilmu yang kita dapatkan dari Ibu Profesional justru bisa bermanfaat bagi sesama, bukan menjadikan diri kita sebagai pelaku bullying terhadap sesama ibu. Memberikan saran boleh, namun lakukan dengan bijak dan bahasa yang baik.

Pemicu Mom Shaming


Lantas kenapa sih sekarang semakin banyak pelaku mom shaming, baik itu sadar atau tidak? Ternyata ada beberapa pemicu, antara lain:

1. Caper (Cari Perhatian)

Biasanya pelaku tak mendapat pengakuan dan penghargaan dalam lingkungan sehingga mencari cara agar ia menjadi menonjol dan dihargai. Salah satu dengan mencibir dan menghina ibu-ibu di sekitarnya agar down dan akan menganggap dirinya paling benar.

Seseorang yang tak bahagia atas dirinya, biasanya akan mencari cara untuk membuat orang lain tidak bahagia.

2. Marah

Kemungkinan kemarahan yang tak terlampiaskan pada keluarga atau anak, akhirnya dilampiaskan pada ibu lain. Sehingga, pada saat ia melakukan "mom-shaming" pada ibu lain, ia dapat menyalurkan kemarahannya.

3. Cemburu

Faktanya, setiap ibu mempunyai ciri khas berbeda-beda. Bisa jadi, pelaku merasa cemburu pada ibu-ibu lain yang mempunyai kelebihan. Misalkan, seorang ibu masih bisa merawat dirinya dengan baik meski sudah mempunyai anak. Sedangkan dirinya, merasa tak secantik dan tak seberuntung ibu-ibu yang lain.

4. Repot

Tak dapat diabaikan, kelelahan dalam mengurus anak dan rumah, membuat ibu mudah tersulut emosi. Sehingga, tanpa disadari, perkataan yang keluar dari mulutnya menjadi media tersalurkannya kelelahan yang ia rasakan.

5. Haus Pengakuan

Kita yang ditakdirkan menjadi ibu rumah tangga, pasti sepakat sebenarnya tak meminta lebih penghargaan muluk-muluk dari orang-orang terdekat. Meski hanya dengan kata terima kasih. Tidak menutup kemungkinan, pelaku mom-shaming salah satu motifnya adalah karena dirinya ingin diakui kiprahnya.  Bisa juga karena merasakan post power syndrome, misal dulunya ibu bekerja di ranah publik dengan segala aktivitasnya, lalu memilih menjadi ibu bekerja di ranah domestik.

Ada fase-fase merasa tidak keren, tidak puas dan butuh dihargai. Akhirnya mulai mencari cara biar nampak keren, “aah aku kan IRT, bisa sama anak 24 jam, mereka yang ibu bekerja di ranah publik anak aja dititipin.

Bahaya Mom Shaming

Korban mom shaming bisa merasa sangat ketakutan jika semua yang dilakukannya menjadi bahan perbincangan ibu-ibu lain. Perlahan perasaan takut itu bisa berubah menjadi rasa benci dan dendam. Rasa benci dan dendam yang berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan psikis.

Seorang dokter Richard A. Honaker menyatakan bahwa "mom-shaming" bisa menimbulkan reaksi kimia abnormal dalam otak. Hasilnya, kita menjadi tidak percaya diri hingga depresi.

Setelah tahu bahaya ini, masih mau melakukan mom shaming, meski kita tak sadar melakukannya?

Tips Mengatasi Mom Shaming

Bagaimana kita sebagai member komunitas yang bergerak di bidang parenting, education dan women empowerment menyikapi hal ini?

Untuk yang menjadi korban, setidaknya ada 10 tips untuk menanggapi mom shaming yang ditujukan kepada kita. Apa sajakah?

1. Bersikap legowo alias tenang meskipun sebelumnya tak pernah dikritik atau menjadi korban mom-shaming. Selalu persiapkan mental seakan kita sudah pernah menjadi korban mom-shaming.

2. Memahami bahwa menilai dan mengkritik membuat sebagian orang merasa lebih baik. Misalnya jika pelakunya adalah anggota keluarga sendiri, mungkin mereka ingin terlibat dalam pengasuhan anak.

3. Tetap perhatikan para mom-shamers yang merasa tahu segalanya dan mengirimkan informasi hanya untuk mendengar dirinya berbicara.

4. Mom-shaming biasanya dilakukan seseorang karena ingin menutupi rasa nggak nyaman atau rasa bersalah saat mereka mengasuh anak dengan cara yang berbeda. Jadi, nggak perlu ambil pusing ketika mengalami mom-shaming yang dilakukan orang-orang seperti ini ya.

5. Kurangi waktu kita bersama orang-orang yang menjadi pelaku mom-shaming. Baik itu keluarga atau teman sebagai upaya menenangkan diri.

6. Selalu berpikir bahwa tak ada orang tua yang sempurna. Setiap orang tua pasti pernah membuat kesalahan.

7. Balas kritikan dengan candaan sebagai senjata. Jadi hempaskan saja dengan tawa ala-ala Syahrini. “Baiiik, terima kasih sarannyaaaah cintaaah… tapi kali ini aku mau menghempaskanmuuuh ke ujung duniaaa.” he-he-he.

8. Jangan terpengaruh oleh teman-teman yang pola asuhnya terlihat mulus dan mudah.

9. Ketika para pelaku mom-shaming mengkritik mungkin mereka nggak tahu-menahu tentang kita dan apa yang kita alami. Jadi anggap saja seperti angin lewat.

10. Semua orang tua jauh lebih mengenal anaknya ketimbang orang lain. Untuk itu, tetap yakini bahwa apa yang kita lakukan adalah hal terbaik untuk diri sendiri dan si kecil.

Nah, buat teman-teman yang secara sadar atau tanpa sadar pernah melakukan mom shaming ke ibu-ibu lain… yuk ah tahan jempol dan mulut untuk berkomentar, think twice sebelum memberikan saran dan lebih baik jangan memberikan saran jika tidak diminta, apalagi pada orang yang tidak kita kenal dengan dekat. Bahkan sebaiknya jika orang tersebut kita kenal dekat, ada adab dalam memberikan nasihat bukan? Jangan di muka umum hingga membuatnya malu, dan gunakan bahasa yang baik.
Seringkali tanpa disadari penyampaian lisan ini dapat menyakiti hati orang-orang yang di dekat kita. Mungkin maksud kita hendak menasehati, berbagi cerita atau memberikan solusi. Namun, penggunaan kata tidak pas dapat membuat orang yang kita ajak bicara memaknai perkataan kita berbeda. Mari kita bersama membudayakan berkata hati-hati meski dengan sahabat kita. Karena melalui candaan pun, bisa membuat lawan bicara kita tersinggung.

Ada yang pernah mengalaminya kah? Yuk hari ini kita ngobrol masalah ini dan diskusikan cara terbaik menghadapi mom shaming yang terjadi di sekitar kita.

Dikutip dari buku Resonansi, sebagai sesama perempuan sebaiknya kita bisa saling beresonansi. Resonansi dalam KBBI berarti dengungan/ getaran, peristiwa turut bergetarnya suatu benda karena pengaruh getaran gelombang elektromagnetik luar. Begitu juga diharapkan bahwa sesama perempuan bisa memberikan pengaruh positif, saling mendukung, saling menggetarkan, saling mengingatkan dan saling bekerjasama. Resonansi terjadi ketika antar perempuan saling memahami dan tidak saling menghakimi perjuangan perempuan lainnya. Karena semua perempuan itu hebat dan memiliki perjuangannya sendiri-sendiri.
Salam semangat untuk semua perempuan di Indonesia dan seluruh dunia!


Sumber:

https://www.republika.co.id/berita/kolom/fokus/18/07/29/pci7eg328-mom-shaming-benarkah-ibuibu-tidak-juga-dewasa

https://edukasi.kompas.com/read/2018/12/20/23041341/mewaspadai-bahaya-mom-shaming-dan-5-pemicunya?page=all

https://www.haibunda.com/moms-life/20180921132315-68-26367/10-tips-menghadapi-mom-shaming




0 comments:

Posting Komentar

Salam Kenal



Perkenalkan kami
Komunitas Ibu Profesional Semarang, blog ini berisi tentang informasi kegiatan dari komunitas kami juga beberapa artikel berkaitan dengan
women empowerment dan parenting.

Untuk bekerjasama dan informasi lebih lanjut bisa menghubungi kami di ibuprofesionalsemarang@gmail.com.

Popular Posts