Semarang, Indonesia ibuprofesionalsemarang@gmail.com

Senin, 08 April 2019

#CelotehEmak: Writing for Healing - Write, Love and Live


Menulislah secara sangat bebas tanpa mempedulikan struktur kalimat dan tata bahasa. Niscaya Anda akan terbebaskan dari segala deraan batin. (Dr. James W. Pennebaker)

Sebelum memulai membaca artikel ini, mungkin teman-teman bisa menengok dulu video berikut:


Sudah ditonton, insya Allah paham ya? Kalau nggak paham, jangan minta admin untuk menerjemahkan ya, mungkin bisa minta tolong Ms. Vanny, PJ Rumbel English. Ok, lets back to the topic.

Adakah diantara teman-teman yang suka menulis? Setuju tidak jika menulis membuat hidup menjadi bergairah? Letupan-letupan perasaan, gejolak gagasan, menuntun jari-jemari untuk mengeja huruf demi huruf, merangkai kata demi kata, menuturkan kesatuan pikiran dan perasaan. Kebebasan menulis berpijak pada keleluasaan menuangkan segala rasa yang dirasakan, tidak terbatas pada aturan-aturan penulisan. Namun ternyata menulis bukan sekedar merangkai sejumlah kata-kata hingga menjadi sebuah alur cerita yang memiliki makna. Menulis bisa membuat perasaan bahagia yang luar biasa. Menyembuhkan berbagai trauma dan menjadi terapi jiwa.

Banyak penelitian psikologis yang membuktikan bahwa menulis dapat mengurangi tekanan jiwa, distress dan salah satu jalan menuju kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Orang yang hobi menulis pasti akan menuliskan apa yang dia sukai dan dia inginkan. Orang yang terbiasa menulis akan menuliskan segala yang dilihat didengar dan dirasakannya. Seorang penulis tak akan pernah berhenti menuliskan semua hal yang ingin dituliskannya tanpa terbatasi ruang dan waktu. Menulis itu menggugah pikiran dan perasaan, open up our mind hingga membentuk sebuah alur menuju penuturan dalam sebuah tulisan. Menjadi kepuasan, kebahagiaan dan kekuatan untuk setiap pribadi yang memaknainya.

Taruhlah perasaan pada sebuah tulisan, niscaya kita akan merasa terpuaskan. Apa pun bentuk dan isi tulisannya. Kesenangan dan kepuasan itulah yang menjadikannya sebagai terapi yang memungkinkan kesembuhan bagi para penderita ketidakseimbangan emosi. Logikanya, mengekspresikan kemarahan, rasa senang atau kekecewaan lewat tulisan itu seperti kita mengungkapkan kemarahan dengan ucapan, hanya medianya berbeda, bukan orang yang ingin kita marahi, melainkan kertas, pena atau sebuah komputer.

Therapy seperti ini sepertinya sangat sesuai untuk orang-orang yang cenderung introvert, sulit terbuka dan berbagi beban dengan orang lain. Perasaan kesal atau marah yang bertumpuk bisa menyebabkan gangguan pada fisik juga, seperti maag bahkan myom. Dalam sebuah tausyiah, seorang ibu rumah tangga pernah mengeluhkan penyakit myom yang dideritanya. Ia meminta kepada ustadz untuk memberikan jalan keluar bagi penyakitnya karena secara medis sudah divonis tidak bisa disembuhkan. Pak Ustaz pun memberikan sebuah solusi spiritual yang secara medis pun sangat logis.

Menurut Pak Ustaz, si ibu harus menghilangkan kejengkelan-kejengkelan di hatinya yang terus bertumpuk dan tak tersembuhkan. Si ibu pun mengakui bahwa selama beberapa tahun, ia menyimpan kekesalan dan kejengkelan terhadap suaminya yang tidak bisa menghilangkan kebiasaannya merokok. Ini merupakan salah satu bukti bahwa kejengkelan perasaan mempengaruhi kesehatan pikiran, sehingga organ-organ tubuh lain menjadi lemah karena asupan dan rangsangan berbagai simpul saraf pun ikut melemah. Masalah yang awalnya terlihat biasa dan sangat sepele bisa berdampak luar biasa dan berbahaya jika tidak ditemukan solusinya. Kasus ini juga membuktikan bahwa menahan beban perasaan lebih menderita daripada sakit fisik yang kentara dan terdiagnosa.

Menyalurkan kemarahan, kebencian dan kekecewaan dengan menulis bisa memberikan efek positif bagi penulisnya. Kelegaan yang didapat sama dengan kepuasan orang-orang yang biasa curhat dengan teman atau sahabatnya. Menulis lebih aman dan nyaman daripada berbicara ke sana kemari mengadukan perasaan. Makanya, banyak penelitian psikologis yang telah membuktikan bahwa menulis dapat menghilangkan efek traumatis pada orang-orang yang menderita gangguan psikologis atau mengalami trauma tertentu. Dengan menuliskan pengalaman pahit atau kenyataan pahit yang dialaminya, trauma seseorang bisa berkurang. Jika hal ini dilakukan secara intensif, kesembuhan adalah sebuah keniscayaan. Yang penting motivasi, keyakinan dan kepercayaan akan kesuksesan/kesembuhan itu tetap dijaga. Insya Allah.

Landasan Teori Writing for Healing


Menulis dapat membuat kita menjadi lebih sehat. Melalui tulisan kita bisa melihat benang merah yang terhubung ke dalam diri kita, yang mungkin saja sedang terluka. Ada kepuasan tertentu yang dirasakan setelah menulis. Banyak yang mengalami perubahan pula setelahnya. Seberat apapun beban yang dirasakan, sesudah tuntas dilepaskan melalui tulisan akan meringankan sesak yang ada dalam dada. Pikiran jadi lebih jernih dan hati tentunya lega, sebab beban batin yang dirasakan sudah terangkat sedikit demi sedikit.

Hubungan antara menulis ekspresif dengan kesehatan ditemukan oleh Dr. James Pennebaker, guru besar psikologi Universitas of Texas, Austin. Penelitian ia lakukan pertama kali di akhir tahun 1980. Pennebaker telah melakukan penelitian tentang kegiatan menulis selama bertahun-tahun. Ia mengatakan dalam bukunya, Writing To Heal, bahwa orang yang terlibat dalam laporan menulis ekspresif merasa lebih bahagia dan berkurang dampak negatif daripada sebelum menulis. Selain itu orang-orang yang memiliki gejala depresi, kecemasan dan gangguan kesehatan mental lainnya juga berkurang dalam beberapa Minggu dan bulan setelah menulis lengkap dengan gejolak emosinya.

Secara sederhana, menulis ekspresif dapat diartikan sebagai usaha berulang untuk mengungkapkan segala emosi yang dirasakan saat stress datang. Dapat pula dimaknai sebagai upaya menuangkan ekspresi dalam tulisan.

Kegiatan ini akan membantu mengembangkan kecerdasan emosional, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik dan menangani masalah lebih sehat. Sangat baik pula untuk membantu anak mengembangkan karakter. Bagi yang memiliki luka batin ini akan membantu orang tersebut untuk dapat menumbuhkan self compassion (kasih sayang pada diri sendiri) dan juga self acceptance (penerimaan diri).

Cara Menulis Ekspresif Sebagai Terapi


Menurut psikolog klinis John F. Evan, inilah hal-hal yang patut diperhatikan saat kita ingin melakukan menulis ekspresif sebagai bagian dari writing for healing:

1. Waktu

Ambil waktu selama 20 menit per hari selama 4 hari berturut-turut.

2. Topik

Pilih topik yang menurut kita bersifat paling pribadi dan penting untuk kita urai.

3. Kontinue

Lakukan terus menerus.

4. Hilangkan Keraguan

Jangan ragu untuk menulis hal yang sangat pribadi. Sebab ini MENULIS UNTUK DIRI SENDIRI. Apa yang kita tulis itu hanya untuk diri kita. Jangan risau kan kaidah, jangan ragu, malu. Sebab sat itu hanya kita dan Tuhan yang tahu tentang tulisan tersebut.

5. Ketahui Batasan Kita

Jika kita menuliskan hal tersebut dan ditengah jalan kita merasakan psikosomatis seperti pusing, mual atau gejala lainnya. Segeralah berhenti, dan mulai lagi saat sudah mereda/membaik.

6. Harapkan Sesuatu

Ada saat diakhir kita menulis perasaan 'down' atau merasa sangat lelah. Tapi itu hanya akan bertahan 1-2 jam saja. Hayati aliran rasanya, refleksikan kondisi kita saat itu. Jujur, jangan ditolak. Gunakan saat itu untuk bermuhasabah, berdoa dan menyampaikan harapan kita pada Tuhan.

Bentuk-bentuk Tulisan


1. Menulis Puisi
2. Menulis Jurnal Harian Bersyukur (gratitude journal)
3. Menulis surat dalam amplop tertutup untuk diri sendiri di masa lalu atau gambaran diri masa depan, atau ditujukan surat untuk orang lain
4. Menuliskan impian, tujuan (bisa dalam bentuk mind mapping)
5. Menulis Cerita pendek/ Fiksi based on true story'
6. Dan masih banyak cara menulis lainnya yang bisa disesuaikan dengan kenyamanan kita.

Manfaat Terapi Menulis

Apa saja sih Manfaat dari Terapi Menulis Ini, mari kita simak hal - hal di bawah ini:

1. Refresh Your Mind

Setelah kita menyelesaikan apa yang kita tulis, kita pasti menghela napas panjang itu adalah tanda bahwa perasaan kita sudah mulai refresh kembali, pikiran pun kembali jernih dan merasa puas karena sudah menyelesaikan tulisan kita. Cobalah untuk membacanya sekali lagi pasti kita akan merasa lebih baik lagi.

2. Knowing Yourself; More Gratitude and Happier

Dengan memulai menulis secara teratur, sejatinya kita akan lebih mengetahui diri kita lebih dari sebelumnya, bahkan perlahan juga bisa mengetahui apa karakter dan bakat yang kita punya. Seiring dengan lebih mengenali diri sendiri, kita bisa jauh lebih paham apa hal-hal baik yang sudah ada di dalam diri kita, dan apa hal-hal buruk yang harus diperbaiki di dalam diri. Proses menulis bisa memberikan langkah kepada kita untuk berubah ke arah lebih baik. Setelah kita bisa menemukan siapa dan seperti apa diri kita, kita bisa jadi lebih bersyukur atas semua hal yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Semakin banyak kita bersyukur, semakin kita akan lebih bahagia.

3. Eliminate Stress

Tentunya dengan kita menulis beban perasaan kita akan terasa berkurang daripada kita hanya menyimpannya di dalam perasaan kita sendiri. kita juga bisa menghilangkan intuisi negatif yang hadir ketika perasaan stress tadi menghampiri kita.

4. Solve Your Problem

Dari semua yang telah kita tulis kita juga bisa mengambil satu titik temu dari permasalahan yang kita hadapi, kita juga bisa melihat permasalahan dengan lebih tenang, dan juga kita bisa menyelesaikan permasalahan dengan lebih efektif. Bahkan di satu titik, kita bisa jauh lebih ikhlas memaafkan hal-hal yang tadinya membuat diri kita marah dan benci.

5. Overcome Missunderstandings

Sebuah kesalahpahaman yang tidak bisa kita selesaikan dengan perkataan bisa kita selesaikan dengan tulisan, sehingga kita dapat memberikan penjelasan yang lebih konkrit dan masuk akal jika ditambahi dengan tulisan.

6. Improve Your Writing Skills

Secara tak sadar semakin sering kita membiasakan menulis ekspresif dalam kaitannya writing for healing, perlahan kemampuan menulis kita pun bisa membaik. Siapa tahu dari titik ini, kita justru bisa meninggalkan jejak-jejak karya.

Memulai Menulis Ekspresif

Tapi sekarang permasalahannya biasanya adalah bagaimana cara kita memulainya, bagaimana kita bisa memulai menulis dengan teratur agar kita bisa terhindar dari yang namanya stress.

Memulai sesuatu memang lebih sulit daripada kita hanya meneruskan sesuatu itu. Memang ketika kita ingin memulai sesuatu, adakalanya kita masih merasa bingung, bimbang mungkin juga galau. Tapi jika kita hanya diam saja maka waktu pun akan meninggalkan kita.

Lakukan langkah-langkah di bawah untuk memulai menulis ekspresif:

1. Lakukanlah dengan rutin dan mulailah dengan menulis hal - hal kecil yang terjadi pada diri kita maupun hal-hal yang terjadi di sekitar kita.

2. Bawalah catatan kecil dan buatlah sebuah catatan secara garis besar terlebih dahulu.

3. Carilah tempat yang tepat untuk menulis, karena privasi kadang dibutuhkan seseorang untuk menulis.

4. Biarkan perasaan kita yang menulis, biarkan mengalir seperti air.

5. Manfaatkan waktu luang kita untuk mencatat dan menulis.

Jadi, sudah siapkah ProSoTan Ladies menulis ekspresif? Dengan cara seperti apa? Apapun cara yang dipilih semoga bisa segera menemukan jalan keluar atas segala permasalahan yang sedang dihadapi.

"Jangan pernah berhenti menulis, karena tulisan pun tidak akan pernah berhenti mengikuti kita, begitu pula dengan kejadian - kejadian yang mengikuti kita. Tumbuhkan ide -ide kreatif dan mulailah berkreasi."

***

Sumber :

Materi workshop writing for healing (Hessa Kartika)

https://www.kompasiana.com/massmaman/5512a236a333117c5eba7e44/terapi-menulis-therapeutic-writing

https://www.kompasiana.com/fiorence18044/5c24da40bde5750218062173/menulis-ekspresif-ternyata-bisa-melepas-stress?page=all

https://positivepsychologyprogram.com/writing-therapy/

https://youtu.be/hbv0kxlFcSY

https://youtu.be/OzDx7-JYVHU










Salam Kenal



Perkenalkan kami
Komunitas Ibu Profesional Semarang, blog ini berisi tentang informasi kegiatan dari komunitas kami juga beberapa artikel berkaitan dengan
women empowerment dan parenting.

Untuk bekerjasama dan informasi lebih lanjut bisa menghubungi kami di ibuprofesionalsemarang@gmail.com.

Popular Posts