Semarang, Indonesia ibuprofesionalsemarang@gmail.com

Sabtu, 24 Februari 2018

FAMILY BRANDING - RESUME KULWAP IP SEMARANG




Narasumber                    : Ayah Lukman dan Bunda Ilva
Moderator dan Notulen    : Nurul Ku
Pelaksanaan                    : Sabtu, 17 Februari 2018




Keluarga Kelana Bumi ALLAH

Anggota:

Ayah Lukman Nur Hakim

Bunda Ilva Nur Indah Sari

Ananda Tazkiya Rahmannisa Hakim



Asal:

Kami semua berasal dari Bandung, namun sejak 2014 kami semua hijrah ke Semarang



Domisili:

Semarang


Family Branding:

Kelana Bumi ALLAH


Tagline:

#Let'sSafar


Core Values:
Beriman Berbagi Bermanfaat


Mission Statement:

Menyebarkan  manfaat  diri  dan  keluarga  kami  di  bidang  pengembangan  diri  dan  keluarga  di manapun kami berada di Bumi Allah


Aktivitas:
  • Ayah Lukman berprofesi sebagai PNS di Kementerian Keuangan Semarang 
  • Bunda Ilva merupakan Ibu Rumah Tangga  dan juga sebagai Fasilitator Bunda Sayang Batch #2 IIP. Bersama dengan ayah Lukman menjadi Fasilitator Home Schooling bagi ananda Tazki, dan juga  sebagai  Fasilitator  Home  Education  based  on  Akhlaq  and  Talent  (HEbAT  Community Semarang)
  • Ananda Tazkiya (9yo) saat ini menjalani Home Schooling atas keinginannya sendiri. Saat ini sedang mendalami bidang memasak kue. Ananda sangat anti pembullyan, memiliki pandangan bahwa semua orang patut bahagia.



 MATERI KULWAP




Family  Branding  adalah  serangkaian  proses  penemuan,  penentuan,  perancangan  dan penetapan identitas sebuah keluarga.

Kenapa harus ada family branding?

Product branding adalah suatu upaya yang dilakukan agar sebuah produk yang tercipta dan dirasa baik menjadi diketahui, mudah diingat dengan tujuan bahwa produk tersebut menjadi preferensi bagi customer.

Family  Branding  hampir  sama  dengan  product  branding.  Family  Branding  merupakan upaya    kita    untuk    mengenal    diri    kita,    menyadari    kekuatan    dari    keluarga    kita, mendeklarasikan dan menggunakannya dalam meraih tujuan keluarga dan disesuaikan dengan customer kita.

Tujuan Family Branding:
  • Mampu menyampaikan citra/pesan denga jelas
  • Memastikan kredibilitas keluarga Anda
  • Mampu menghubungkan seluruh anggota secara emosional
  • Mampu menggerakkan/memotivasi seluruh anggota keluarga
  • Memastikan terciptanya kesetiaan dan kekompakan seluruh anggota keluarga


Siapa customer kita?

Bisa siapa saja. Masyarakat, komunitas, keluarga, Allah, dll. Silahkan ditentukan.

Manfaat   Family  Branding  sebagai   sebuah   identitas   keluarga   yang   akan   membuat anggota  keluarga  semakin  bersemangat  untuk  menggunakannya,  mempraktekannya dan  membuat  orang  lain  belajar  dan  bahkan  juga  melakukan  family  branding  untuk keluarganya.

Proses penentuan Family Branding (DISCOVER)

Proses  ini  mungkin  akan  berjalan  panjang  dan  memakan  waktu  yang  lama,  bahkan bongkar pasang. Itulah prosesnya, bertumbuh bersama keluarga.
  • Perbaiki pola komunikasi kita kepada keluarga
  • Perbanyak  family  forum,  banyak  ngobrol,  banyak  santai,  ciptakan  suasana santai   dan   cair,   ciptakan   kedekatan   hingga   akhirnya   menjadi   tim   yang tangguh dan solid.
  • Kita harus tahu siapa customer kita. Siapa yang masukannya akan didengar dan akan selalu ditinjau ulang.
  • Telaah keluarga kita,  apa kelebihan dan kekuatan,  kesamaan kita,  apa yang bisa kita kolaborasikan sehingga kekuatan masing-masing menjadi kekuatan keluarga. Rumuskan secara spesifik.
  • Tentukan core values yang menjadi guidence kita supaya tetap on track dan menjadikan setiap langkah kita menjadi bernilai.
  • Penentuan  core  values  ini  ditentukan  dari  dalam  keluarga  (inside  out)  yang dirasa    sesuai    dengan    karakter    keluarga    masing-masing.    Peran    yang digunakan bisa berbeda namun valuesnya sama.


DEFINE

Tahap ini berkaitan dengan citra dan pesan.

"Kita ingin dikenal sebagai keluarga yang seperti apa?...itu adalah citra. "Jadilah keluarga yang ...." itu adalah pesan.
Dari citra dan pesan inilah nanti kita bisa menentukan milestone atau indikator kita.

Contoh:  image  yang  dibentuk  oleh  keluarga  Bu  Septi  dan  Pak  Dodik  adalah  keluarga inovatif  maka  indikatoe  yang  dicanangkan  adalah  berapa  karya  yang  akan  dihasilkan dalam suatu periode tertentu.

Desain
  • Tuangkan dalam suatu rancangan rinci yang jelas
  • Nama, harus mudah diucapkan dan diingat
  • Latar belakang
  • Logo
  • Desain semacam do'a kita untuk keluarga kita. Brand keluarga tersebut haruslah disesuaikan dengan core values keluarga kita
  • Tagline yang membangkitkan semangat kita beraktivitas.
  • dan atribut lainnya


Deploy
  • Waktunya     action,     semua     rencana     dan     indikator-indikator     waktunya direalisasikan.
  • Bergerak menulis, dan apapun  itu jalankan sesuai rencana.
  • Tahap  ini  sangat  penting  agar  brand  keluarga  tidak  sekedar  menjadi  brand.
  • Libatkan seluruh anggota keluarga dalam prosesnya.
  • Proses ini adalah urutan keluarga untuk membangun dan mendidik keluarga agar menjadi seperti brand yang telah ditetapkan.
  • Kuncinya  adalah  membangun  komunikasi  karena  seluruh  rangkaian  kegiatan didasari komunikasi.
  • Hal  ini  dapat  dilakukan  dengan  membangun  aneka  forum  keluarga:  ngumpul bareng, ngobrol, tidak ada televisi.
  • Agar  komunikasi  dapat  dibangun  lebih  baik,  perlu  adanya  kesepakatan  gadget time atau gadget area.
  • Feedback   dari   brand   dapat   diukur   dengan   enjoy,   easy,   excellent   dalam menjalankan peran.


=================================

SESI TANYA JAWAB

1.       Desty - Wonosobo

Bagaimana upaya untuk mengajak suami supaya mau berpartisipasi dalam menentukan family branding? Secara komunikasi dan keterbukaan antara saya dan suami sudah oke. Tapi kalau saya mulai   bicara tentang aturan,   cita-cita   keluarga,   dan   rencana-rencana   lain   suami   cenderung   cuek   dan menganggap saya berlebihan dan ribet. Saya pengen nya eksplore tapi suami males-malesan kalau ada proyek keluarga. Bagaimana ya antisipasinya?

Apakah family branding bisa berperan dalam pembentukan karakter anak? Misal ayah dan ibu  sudah  membuat  family  branding  sebelum  anak  lahir.  Setelah  lahir  si  anak  diarahkan  sesuai family branding kita.

Terimakasih sebelumnya..

Jawaban Ayah Lukman:

A. Mungkin suami tipe orang spontan dan tidak suka yang terstruktur. Itu bagus, sehingga bisa adaptif terhadap perubahan. Untuk mensiasatinya, mba bisa menurunkan ekspektasi dan tidak perlu  terburu-buru.  Coba  diselami  kenapa  bisa  menyebut  ribet,  apakah  ada  kejadian  di  masa  lalu sehingga  tidak  mau  berpikir  yang  ribet-ribet,  atau  hal  lainnya.  Pelan-pelan  bersamai  pasangan  kita menemukan peran dan tugasnya. Memang tidak bisa cepat, karena ini merupakan peninggalan dari para orang tua kita. Kebanyakan orang tua kita menyiapkan anak-anaknya untuk sukses berkarir, tapi lupa menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi suami atau istri. Di sekolahpun tidak ada mata pelajaran  'menjadi  orang  tua'.  Nah,  kita  sudah  memahami  bahwa  kita  punya  misi  tertentu  di dunia, maka fokuslah pada pemenuhan misi tersebut. Misi itu ditemukan, dengan cara melihat apa  bakat  kita,  apa  potensi  kita,  lalu  bidang  apa  yang  kita  merasa  nyaman  di  dalamnya,  dan permasalahan apa yang kita merass bisa dan mampu berkontribusi. Misalnya, saya punya bakat empati yang tinggi, saya bisa merasakan perasaan orang lain yang sedang kesusahan karena KDRT.  Saya punya teknik  atau  relasi  untuk  membantu  meringankan  para korban  KDRT.  Maka misi  saya  adalah  membantu  pemulihan  psikologis  korban  KDRT  dengan  metode  xyz.  Adapun bika  pasangan  kita  belum  mendukung,  tujukkan  aksi,  yang  kemudian  akan  menuntun  pada perubahan diri kita, yang kemudian akan dirasakan oleh pasangan kita.

B. Bisa. Family branding akan membentuk pola hidup, pola pikir, pola prilaku, dan termasuk pola pengasuhan  kita  terhadap  anak.  Sehingga  bisa  saja  nanti  misi  hidup  dari  anak  (dengan kesadarannya sendiri) adalah meneruskan misi dari orang tuanya. Tapi bisa juga berbeda.

Terimakasih jawabannya pak lukman..

Kira-kira untuk komunikasi family branding dengan suami gimana ya awalnya? Biar suami nggak terkesan meremehkan.

Jawaban Ayah Lukman:

Kalau  menurut  saya  mba,  laki-laki  itu  tidak  suka  digurui.  tapi  laki-laki  juga  tidak  suka  kalau istrinya  lebih  pintar  dalam  urusan  yang  seharusnya  menjadi  ladangnya.  Yang  bisa  dilakukan mungkin  banyak  bertanya,  banyak  meminta  pendapat,  banyak  meminta  masukan,  rangsang suami untuk  berpikir  tentang  keluarga. karena tipe  suami mba Desty mungkin spontan,  maka

mba bisa membagi pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam beberapa kali pertanyaan dengan momen yang berbeda-beda.

Bener  nih pak  lukman.. Suami memang gak  suka digurui.. Mungkin lebih baik  memancing pertanyaan yaa.. Bukan menyuruh utk ini ituu..

Jawaban Ayah Lukman:

Nah itu mba. Kalau digurui, laki-laki akan tersinggung egonya karena ada perasaan diremehkan. Tapi  kalau  ditanya,  dimintai  tolong,  laki-laki  akan  merasa  berharga  dan  insyaallah  akan  lebih terbuka mba

Siap  pak  lukman..  Bisa  dicoba  mengganti  cara  mengkomunikasikan  utk  masalah  ini.. Semoga bisa berhasil..

Jawaban Ayah Lukman:

Bismillah..  Insyaallah  bisa  mba..  Yakin,  jangan  lelah  berusaha,  dan  selalu  berdoa..  Mudah- mudahan diberikan kemudahan dan kelancaran ya mba..

Jawaban Bunda Ilva:

Halo Mbak Desty yang baik, pengalaman kami untuk bisa satu frekuensi/satu suhu antara saya dan  suami  itu  tidak  langsung  terjadi  begitu  saja.  Kami  mulai  merasa  "harus  bergandengan tangan" membangun *home team* adalah dimulai ketika tahun 2015 yaitu usia pernikahan yang ke 7  tahun.  Suami  mulai  melirik  ilmu-ilmu  tentang  parenting  dan  kekeluargaan.  Kemudian  *Aha! moment* itu ketika masuk di awal tahun 2017 dimana kami sudah tidak berbicara tentang ke- AKU-an   lagi   namun   berganti   menjadi   KAMI.  

Dalam   rentang   waktu   tersebut   saya   akui pengetahuan  dan  wawasan  serta  ilmu  saya  dalam  ranah  keluarga  memang  melesat  jauh dibanding suami. Jelas  sekali,  sebab saya sebagai seorang istri dan ibu pastinya lebih sering bersinggungan   dan   bersentuhan   langsung   dg   masalah   dalam   keluarga   meliputi   konflik pasangan,   pengasuhan   anak,   dan   kerumahtanggaan.   Saya   rajin   ikur   seminar,   pelatihan, workshop, kulwap, diswap, kopdar tentang keilmuan tersebut.

Dikarenakan saat itu saya merasa banyak  ilmu  dan  banyak  tahu  akhirnya  apa?  Saya  banyak  mendikte  dan  mengkoreksi  suami dalam perannya sebagai suami dan ayah. Akhirnya bukannya suami tergerak untuk ikut berubah seperti harapan saya namun malah tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Beruntung saya di tahun  2016  mengenal  konsep  *Fitrah  Based  Education*  dimana  kedudukan  suami  sebagai pemimpian dan kepala sekolah bagi keluarganya. Saya seperti ditampar saat itu, Alhamdulillah tersadar.

Saya merendahkan ego kelaki-lakian suami saya, seharusnya sebagai makmum saya mengikuti instruksi suami selama masih dalam koridor yg tidak melanggar syariat. Saya switch pemahaman saya, saya ubah perlakuan saya dengan tidak pernah menggurui, bersikap rendah hati dan tidak menunjukkan 'kepintaran' saya di depannya, saya pakai teknik questioning karena saya  seorang  fasilitator. 

Setiap  ada  ilmu  atau  artikel  baru  saya  diskusikan  dengan suami,  alih-alih menggiringnya agar ikut opini saya. Saya banyak melontarkan pertanyaan seperti "Yah, menurut ayah  metode  ini  bagus  tidak?  Bisa  tidak  diterapkan?".  Saya  selalu  meminta  pendapatnya sebelum beraksi, sehingga beliau merasa dihargai dan diberi andil. Saya tunjukkan perubahan sedikit  demi  sedikit.  Saya  tidak  mau  berbagi  beban  sendirian  akhirnya  saya  ubah,  saya  bagi kebahagian kepada suami dg cara beban saya tersebut saya konsultasikan dg suami. Biidznillah, suami akhirnya tertarik dg ilmu-ilmu yg saya dalami termasuk ilmu-ilmu di dalam IIP ini.

Berproses ya mbak Ilva. Saya sebenernya pengen ikut  seminar  parenting. Tapi yaitu suami kurang antusias  pergi ke acara begituan

Jawaban Bunda Ilva:

Suami mengizinkan tidak Mbak ikut seminar? Jika mengizinkan silakan berangkat dengan hati dan langkah yang riang dan gembira. Suami tidak menghalangi kita dalam menjemput ilmu itu sebuah anugerah yang harus disyukuri Mbak. Artinya beliau meridhoi. Perkara suami belum mau ikut jangan jd penghalang. Barangkali ilmu tersebut belum dibutuhkan oleh suami. Dan lagi suami akan tertarik jika  setelah  pulang  seminar,  ilmu  yang  kita  dapatkan  segera  diaplikasikan  karena  nanti  yang merasakan  dampak  perubahan  diri  kita  adalah  anak  dan  pasangan  kita.  Dari  situlah  biasanya pasangan  akan  tergelitik  menanyakan  lebih  lanjut  kepada  kita.  Tetap  sabar  dan  optimis  ya


Jawaban Ayah Lukman:

Betul sekali Bunda.. Ini menyangkut sikap logis dari laki-laki. Bila istri ikut kegiatan parenting ini itu,  pergi  ke  sana  kemari  cari  pakar,  namun  dalam  praktek  sehari-hari  ke  anak  masih  marah- marah, tidak dewasa, tidak menunjukkan perubahan positif dalam perlakuan terhadap keluarga, maka anggapan logisnya adalah parenting ini itu tidak efektif dan hanya buang-buang resource.

Jawaban Bunda Ilva:

Oya, visi misi keluarga itu haruslah *ditemukan* oleh suami dan istri bukan oleh istri saja atau suami  saja.  Karena  ketika  menentukan  visi  misi  keluarga  itu  kita  berbicara  tentang  *kami* bukan aku.


2.      Dian Ekaningrum

Apakah family branding juga berlaku bagi yang belum mempunyai anak?

Selama ini saya telah berupaya untuk menggandeng suami untuk membuat pola dan arah keluarga  kami  mau  dibawa  kemana,  tapi  beliau  masih  nampak  berat  melakukannya.  Ada  kah tips-tipsnya?

Jawaban Ayah Lukman:

1.  Bisa  mba,  karena  family  branding  merupakan  branding  keluarga.  Anggota  didalamnya  ya tergantung  keluarga  masing-masing,  terlepas  sudah  ada  anak  atau  belum.  Bila  kita  memiliki  Family Branding  sebelum  kita  diberikan  amanah  olehNya,  maka  artinya  kita  telah  menyiapkan  suatu tempat  yang  insyaallah  telah  terkondisikan  dengan  kebaikan  saat  sewaktu-waktu kita  diberikan amanah tersebut.

2. Bila suami belum satu frekuensi dengan kita, maka kita bisa banyak-banyak berbagi kebahagiaan dengannya.  Terus  dibersamai,  jangan  memberikan  beban  harus  segera  berubah  padanya. Hindari   menggurui,   karena   itu   sangat   menyinggung   egonya.   Banyak-banyak   sharing   tentang pengasuhan, tentang konsep keluarga, dalam suasana santai dan cair, tetap rileks dan optimis. Dan  yang  terpenting,  jangan  lupa  berdoa  kepadaNya,  karena  sejatinya  yang  bisa  membolak- balikkan hati manusia adalah Allah.

Jawaban Bunda Ilva:

Sebenarnya  pertanyaan  ini  muncul  karena  belum  tersampaikannya  konsep  a  home  team  jadi alurnya begini:

Membangun  A  Home  TeamMenemukan  Family  BrandingMenentukan  Family  Strategic
PlanningSharing

Maka, harus dicek dulu. Keluarga kita itu adalah team ataukah kerumunan? Kalau kerumunan itu  biasanya  hanya  berkumpul,  mungkin  tidak  ada  interaksi  di  dalamnya,  dan  tidak  memiliki tujuan bersama yang akan dicapai. Namun apabila keluarga kita adalah sebuah team maka kita memiliki seorang leader atau pemimpin yang unggul, memiliki tujuan yg sama, memiliki nilai hidup jelas, setiap anggota saling memahami dan menghormati, dan memiliki pola kerja atau gerak yang selaras.

Materi A Home Team ini materi tersendiri sebelum kita melakah pada Family Branding ini. Jika ada kesempatan Insya Allah akan kami jelaskan lebih lanjut lagi.


3.      Adis A.

Kalo misal, dalam penentuan family branding, dua-duanya masih ngotot-ngototan sama pendapatnya, sebaiknya gimana yaa?

Karena kan ujungnya istri nurut suami yaa..supaya istri bisa legowo sama keputusan suami (yang mungkin ga 100% sesuai sama kemauannya), gimana?

Jawaban Ayah Lukman:

Sudah ditetapkan belum misi dan visi personalnya mba?

Kalau  masalah  ngototnya,  mungkin  bisa  dilihat  tipe  suaminya  seperti  apa.  Apakah  tipenya semua harus diputuskan suami (commandernya tinggi). Atau tipe suami yang mau menerima masukan.  Bila tipe  commander  /  kepemimpinan  tinggi,  mba bisa memberi  masukan  sebelum memutuskan branding walau mungkin porsinya tidak banyak. Bila tipe suaminya terbuka, maka banyak kemungkinan masukan bisa diterima. Namun yang perlu diperhatikan, bila suami sudah memutuskan maka sejatinya itu sudah menjadi ketetapan.

Cara  menerimanya,  terima  dulu,  maklumi  dulu,  dan  tetap  tunjukkan  rasa  hormat.  Ngotot  itu sebenarnya  sedang  tinggi-tinggian  ego.  Maka  accepting  dulu,  terima  dulu  keputusan  beliau. Turunkan  dulu  ego  mba  dan  pasangan,  lalu  tunjukkan  penghargaan.    Insyaallah  suami  akan menerima masukan lebih lanjut.

Menurut  saya,  laki-laki  itu  makhluk  ego.  Ketika  ego  laki-laki  tinggi,  maka  laki-laki  bisa  sangat egois dan tidak berpikir logis. Selalu kembali ke statement bahwa 'saya adalah pemimpin, ikuti saya'. Maka trik yang mungkin berguna adalah, penuhi dulu ego laki-laki. Turunkan dulu ego laki- laki.  Setelah  egonya  turun,  rasionalitas  kembali,  itulah  saat  yang  bagus  untuk  berbicara  atau berdiskusi. Ini bukan untuk masalah branding saja, namun hampir untuk semua masalah.

4.      Nurul Ku

Berapa lama perjalanan sampai bisa menemukan visi dan misi keluarga itu? Apa tergantung intensitas diskusi kita dengan suami juga?

Jawaban Bunda Ilva:

Setiap orang dan setiap keluarga punya term waktu yang berbeda-beda. Ada yang cepat pun ada yang lama. Tidak bisa kita ambil timebond rata-rata.

Yang  pasti  semakin  kita  melakukan  3  aktivitas  ini  bersama-sama  maka  akan  lebih  cepat  kita menemukannya. Apa saja aktivitas tersebut?

1. Ngobrol bareng

2. Main bareng

3. Berkegiatan bareng



5.      Nurul Ku

Kenapa  dulu  tiba-tiba  membuat  family  branding.  Setelah  membuat  family  branding  berarti harus membuat semacam kurikulum untuk menjalankan visi misi dari family branding itu sendiri?

Jawaban Bunda Ilva:

Ok,  kenapa  sih  kami  concern  untuk  menentukan  Family  Branding?  Sebab,  kami  menyadari banyak  pasangan  yg  ketika  menikah  sama  sekali  tidak  punya  road  map  (peta)  mau  dibawa kemana keluarga tersebut nantinya? Banyak yg akhirnya berprinsip mengalir sajalah seperti air? Kalau begitu anda sama halnya dg keluarga lain yg memiliki prinsip sama seperti itu. Anda tidak memunculkan  ciri  khas  keluarga  anda.  Padahal  setiap  orang  itu  terlahir  unik  dan  very  limited person, begitupun dg keluarga satu dan yg lainnya itu unik tdk bisa disamakan mereka memiliki ciri khasnya masing-masing.

Nah, family branding ini adalah sebagai sarana kami menuangkan dan mendeklarasikan serta menjadi identitas kami. Ketika kami sdh memngetahui siapa diri kami, mengetahui potensi kami, mengetahui   tujuan   kami.   Maka   kami   bisa   mencurahkan   perhatian   dan   tenaga   kami   utk mencapai tujuan. Dan tidak membuang energi kami untuk hal yg sia-sia.

Apa yg anda bayangkan ketika mendengar nama keluarga kami adalah *Kelana Bumi ALLAH*? Pasti pikirannya ada yang melayang ke:

- ini keluarga sepertinya muslim banget deh

- mereka senang berkelana

- pasti senengnya jalan-jalan, traveling

- pantes aja suaminya kerja di keuangan jadi wajarlah banyak uang bisa jalan-jalan

- keluarga banyak duit

- keren jadi mupeng

- dsb

Ini  adalah  asumsi  dari teman-teman  yang  pernah  kami  temui  ketika  first  impression  mengetahui family branding kami.

Apakah  asumsi  ini  betul?  Bisa  jadi  betul,  bisa  juga  tidak.  Namun  satu  hal  yang  betul  adalah memang kami keluarga yang senang *berkelana* juga memiliki *mobilitas tinggi*. Adapun asumsi yang lain biarlah menjadi buah pikiran mereka. Tp kami sukses membawakan branding keluarga kami,  tanpa  harus  babibu  menjelaskan  cukup  dengan memperkenalkan  family  branding  kami  itu sudah cukup membuat orang lain tahu seperti apa keluarga kami ini.

Dalam   family   branding   tidak   ada   yang   namanya   kurikulum.   Hanya   pengungkapan   identitas keluarga saja. Setelah selesai tahap family branding maka kita barulah akan menyusun family strategic   planning   yang   arahnya   menentukan   strategi   apa   dalam   mencapai   goals   yang   telah ditentukan.

Jawaban Bunda Ilva:

Teman-teman adakah disini yang penasaran kenapa nama Family Branding kami adalah *Kelana
Bumi ALLAH*?

Lalu kok ada taglinenya segala?

Core values itu apa? Di dapatnya bagaimana?

Bisa menentukan mission statmentnya itu bagaimana?


Kalau ini saya juga penasaran banget mbak

Sekalian disharing ceritanya boleh ya?

Jawaban Bunda Ilva: 
Kelana Bumi ALLAH
Kelana berarti perjalanan kemana saja hingga ke tempat yang belum terjamah bahkan terkadang melewati   dimensi   ruang   dan   waktu.   Layaknya   hijrah   yang   banyak   membawa   hikmah, pengelanaan bagi kami memiliki 3 hal

1. Sharing (berbagi), berbagi dalam harta, waktu, perhatian, pengalaman, ilmu, dll. "The more you give,  the  more  you  get"  (Lukman,  2017).  Dengan  sharing  maka  kami  menjadi  kaya  wawasan, kaya  hati,  kaya  ilmu,  kaya  pengalaman,  kaya  persahabatan,  dan  kekayaan  lainnya.  Sharing  ini juga  sejalan  dengan  perintahNya  untuk  bersilaturrahim  dengan  semua  kebaikan  di  dalamnya. Dengan berbagi, maka kita akan berkelimpahan.

2.  Kebermanfaatan.  Sejalan  dengan  hadis  Nabi  "Sebaik-baiknya  kalian  adalah  yang  paling bermanfaat   bagi   orang   lain"   (HR   Ahmad).   Kebermanfaatan   ini   merupakan   indikator   dari eksistensi seorang manusia. Bahkan tugas kita sebagai _Rahmatan lil'alamiin_ dan _khalifah fil ardh_  juga  diukur  dari  seberapa  besar  manfaat  yang  bisa  kita  berikan  untuk  sesama.  Tentu manfaat yang diharapkan adalah yang bisa memberi dan membawa kebarokahan.

3.  Learning  Proccess  (proses  pembelajaran).  Setiap  pengelanaan  kami  ke  berbagai  tempat merupakan sarana pembelajaran dan pendewasaan kami sebagai manusia, keluarga, team, dan hamba  Allah.  Banyak  sekali  excitement,  hikmah,  local  wisdom,  peluang,  pengalaman,  relasi, saudara, motivasi, inspirasi, meningkatkan kemampuan adaptasi, sosialisasi, rasa percaya diri, dan  hal-hal  lain  yang  membuat  kami  mkin  bahagia  dan  matang  dalam  menjalankan  peran kehidupan kami.

Kesemuanya itu dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, kepada siapa di Buminya Allah dan diharapkan selalu ada dalam setiap pengelanaan kami.

Potensi Kami

Dari   hasil   assessment   Talent   Mapping,   saya   dan   istri   sama-sama  memiliki   bakat   Developer, Consistency,  dan  Responsibility.     Kami  senang  mencari  dan  membantu  mengembangkan kelebihan  orang  lain  (Developer).  Kami  senang  vila  ada  yang  percaya  untuk  berbagi  kepada kami dan kami akan berusaha menjaga kepercayaan tersebut (Responsibility). Dan kami tidak suka  melihat  ketidak  adilan,  karena  sejatinya  kita  adalah  sama  di  hadapanNya  (Consistency).

Kami    merupakan    fasilitator    Home    Education    bagi    putri    kami.    Passion    kami    adalah pengembangan diri dan keluarga yang tertuang dalam  kegiatan kami di komunitas-komunitas berbasis Home Education, keayahan, keibuan, dan pengembangan keluarga.

Peran Kami: Developer

Core Values Kami: Beriman, Berbagi, Bermanfaat

Mission Statement Kami: "Menyebarkan  manfaat  diri  dan  keluarga  kami  di  bidang  pengembangan  diri  dan  keluarga  di manapun kami berada"

Vision Statement Kami: "Menjadi Keluarga Ahli Surga dengan berbagi kebermanfaatan diri dan potensi keluarga kami"


Jawaban Bunda Ilva:

Oya, family branding Bu Septi dan Pak Dodik kan *Padepokan Margosari*. Kira-kira ketika teman
-teman  mengetahui  family  branding  mereka  tersebut,  apa  yang  terlintas  dalam  pikiran  teman- teman? Biasanya akan banyak yang menjawab:

- pasti semua anggotanya pintar-pintar

- rumahnya jangan-jangan punya perpustakaan

- keluarga intelek

- dsb

Kemudian  kalau  kita  mendengar  ada  family  branding  *Doyan  Dolan*  kira-kira  apa  yg  teman- teman pikirkan tentang keluarga ini?

Suka bermain atau suka jalan-jalan? Jawaban Bunda Ilva:
Ya betul, tagline keluarga Doyan Dolan adalah *silaturahim&share*. Teman-teman tahu tidak ini family  branding  siapa?  Ini  family  branding  Pak  Lukman  dan  Bunda  Noor  (PolJa)  yg  sudah malang melintang membuka kelas jahit untuk member IP seluruh Indonesia.

Jawaban Ayah Lukman:

Dan yang kami rasakan, semakin kami menyatakan branding kami, entah itu dalam tulisan kami, dalam  vision  board  di  rumah  kami,  atau  dalam  percakapan  sehari-hari,  itu  semua  semakin meneguhkan  dan  menguatkan  identitas  kami.  Kami  makin  optimis,  makin  percaya  diri,  dan makin memantapkan kami dalam berbagi ilmu dan pengalaman kami di bidang pengembangan diri dan keluarga.

Jawaban Bunda Ilva:

Seperti itulah keluarga kita akan dikenal oleh orang lain sebab memiliki ciri khas tersendiri dan unik.  Disadari  atau  tidak  semua  langkah  setiap  anggota  keluarga  tidak  akan  keluar  dari  "rel" branding tersebut.

Oya,  tagline  keluarga  juga  adalah  semacam  ajakan  dan  penegasan  bahwa  _Kelana  Bumi ALLAH_ (KLB) itu mengajak teman-teman utk #LetsSafar yg artinya ayo kita bepergian keluar dr rumah  kita  tdk  perlu  jauh  hanya  berjalan  di  taman  kota  saja  itu  sudah  keren  lho.  Barangkali ketika kita pergi tsb banyak ilmu dan hikmah yg Allah turunkan utk kita. Dg kita melihat dunia lebih jauh maka kesyukuran kita diharapkan semakin bertambah kpd Allah SWT.

Kemudian, kenapa kita harus menentukan *core values*?

Nah, core values itu adalah sebuah _golden rules_. Nilai-nilai yg kita anggap baik dalam keluarga kita. Maka, setiap perbuatan kita selalu diusahakan baik dg koridor dari core values kita.

Core valus itu harus ditentukan minimal 2 dan maksimal 5 ya.

Biasanya keluarga kita akan diuji sesuai dengan core valuesnya masing-masing.


6.      Dian Ekaningrum

Kenapa min 2 dan maksimal 5 teh? 

Jawaban Ayah Lukman:
Itu bukan baku kok mba.. Layaknya semua target itu kan harus Spesifik, Measurable (terukur), Achievable  (memungkinkan  untuk  dicapai),   Relevant  (sesuai  dengan  tujuan),  dan  Time-bond

(ada  tenggang  waktu).  Kalau  valuesnya  banyak,  maka  semakin  banyak  pula  indikatornya. Mungkin  saja  untuk  dilakukan,  namun  dikembalikan  pada  kesiapan  dan  komitmen  keluarga masing-masing.

Jawaban Bunda Ilva:

Seperti keluarga *Padepokan Margosari* yg core valuesnya adalah _keimanan_& _kehormatan_ . Maka, setiap langkah hidup yg dipilih selalu merujuk pada core valuesnya tsb.

Core   values   juga   sebagai   sarana   kita   menentukan   indikator   keberhasilan.   Misalkan   kita menggunakan values *beriman* maka indikator yang bisa dibuat adalah:

1. Solat tepat waktu dalam keadaan apapun

2. Bersedekah dimana saja kapan saja

3. Merutinkan baca Al Qur'an satu hari 5 ayat

4. Lepas dan tidak kembali bersentuhan dengan riba dst

Oya,    kenapa    kami    menuliskan    peran    kami    sebagai *developer*? Sebab ini mengacu pada hasil Talents Mapping masing-masing  serta  passion  kami.  Maka,  teman-teman bisa menggunakan tools Talents Mapping utk menentukan apa peran yang "kami" banget.

Jawaban Bunda Ilva:



Teman-teman mohon maaf saya lupa untuk mengirimkan foto ini. Jadi setelah kita menemukan apa  Family  Branding  kita  maka  teman-teman  segera  tuangkan  dalam  tulisan  dan  ditempel  di tempat  yang  sering  terlihat  oleh  teman-teman.  Misalnya  kami,  menempelkan  di  ruang  tamu sehingga  ketika  kami  sedang  beeaktivitas  di  ruang  tamu  kami  pasti  akan  selalu  melihat  dan membaca tulisan tersebut sehingga tanpa sadar family branding ini termanifestasi dalam gerak, langkah, pikiran keseharian kami.

Teman-teman  boleh  dihias  ya,  ini  standar  banget  sebab  kreatifitas  zeni  kami  berdua  benar- benar minimalis.

Jawaban Bunda Ilva:

Oya, yang terakhir juga nih belum sempat tersampaikan adalah bagaimana kita mencari nama yg pas untuk family branding keluarga kita?

Nah, itu terlihat dari keseharian teman-teman dengan pasangan. Misal, untuk teman-teman yg sama seperti kami memiliki mobilitas tinggi. Maka hindari menggunakan nama 'griya, omah, rumah'. Ada beberapa keluarga yang kegiatannya sama seperti kami senang bepergian. Mereka memiliki family branding:

- Jelajah Langit Biru

- Doyan Dolan

- Team Penjelajah Dunia keluarganya Teh @    dian maryono

- Path2Along

- dsb

Untuk  yang  kekuatannya  ada  di  dalam  rumah,  beberapa  teman-teman  saya  di  komunitas  lain memiliki nama ini:

- Griya Berkah (Mbak Ratna Palupi Leader IP Jogja)

- Omah Project (Mbak Ressy Laila Untari Leader IP Prabumulih)

- Omah Xpressi (Mbak Shanty Irawati pengurus IP Surabaya Raya)

- Griya Riset (Teh Mesa IP Bandung sekarang mutasi ke Jombang)

- Griya Istiqomah (Teh Ismi pengurus IP Tangkot)

- Graha Istiqomah (Mbak Euis IP Surabaya Raya)

- Rumah Soka (Teh Artri dan Kang Jaja fasilitator HEbAT Banjar Patroman)

- dst

Kemudian, jika teman-teman tipikal yg anti mainstream dan unik bisa lihat keluarga ini:

- Sopo Ngiro (Mbak Dewi dan Pak Norman)

- Pelem Kalih (Mbak Linda ex Menkeu IP Banyumas Raya)

- Penggemar Bagong

- Cap Fun (Teh Rindu, HEbAT Bandung)

- Semanggi Family (Mbak Farda,  penulis Buku Jurnal Ibu Pembelajar)

- Firdaus Ark (Teh Ncha, ex Leader IP Bandung)

- dsb

Silakan  teman-teman  bisa  berdiskusi  dg  pasangannya  kira-kira  kita  ini  kekuatannya  dimana. Selamat menemukan family branding yg *gue banget* ya



7.       Nurul Ku
Ini bisa tahu banyak nama family branding keluarga-keluarga lain emang ada grup family branding kah? Penasaran dari tadi

Jawaban Bunda Ilva: 
Nggak ada mbak. Nah ini dia,  salah satu bonus  kami selalu haus  ilmu sampai lintas  kota lintas  propinsi adalah ketika  kita  ikut  seminar  atau  workshop  di  suatu  kota  otomatis  selain  tambah  ilmu  juga membangun network. Alhamdulillah jadi banyak teman, banyak pengalaman, banyak keluarga. Salah satunya kami sudah beberapa kali travelling dengan keluarga Teh dian maryono.

Teh Dian dan suami ini pasangan yang super keren. Hobi mereka berdua itu jalan-jalan. Makanya  family  brandingnya  *Team  Penjelajah  Dunia*  sampai  konsul  hasil  ST-30  3  jam  di depan  rumahnya  buat  bisa  saling  menemukan  kekuatan  dan  menyiasati  kekurangan  masing- masing. Dan bahagianya ketika akhirnya mereka menemukan family branding yg sesuai dengan ciri khas masing-masing anggotanya.

Buat teman-teman yang senang jalan ala backpacker di wilayah Indonesia atau Eropa dengan budget super murah bisa lho sharing dengan beliau ini. Sekarang aja sedang ada di Sumba. Seru deh lihat foto-foto di FB nya

8.       Anita Rosa

Mbak  Ilva ,  suami kan PNS trus  bisa pergi-perginya gimana mba? Hihi jadi ikutan nanya

Jawaban Bunda Ilva:

Kalau suami sejak 2016 menemukan konsep Fitrah Based Education akhirnya pemahaman bliau tentang  keluarga  itu  jd  berubah  360°.  Yang  tadinya  bekerja  dan  bekerja  mengumpulkan  pundi- pundi  akhirnya  berubah.  Kalau  sedang  di  kantor  fokus  dengan  pekerjaannya.  Ketika  jam  pulang segera  meluncur  pulang.  Kemudian  ketika  ada  seminar  atau  workshop  di  luar  kota  yang  dirasa penting untuk pengembangan diri dan keluarga dan dirasa dananya ada maka beliau tidak segan utk ambil cuti. Kalau cuti, betul-betul fokus jiwa dan pikirannya bersama keluarga. Apabila cuti habis tidak  segan  utk  ambil  izin  meskipun  bisa  dipotong  sehari  kurang  lebih  350-500  rupiah, tapi beliau berpikir toh kan tidak setiap minggu atau bulan harus begini. Jadi kami mulai menswitch cara pandang kami terhadap uang. Bahwa uang itu sebagai alat bukan tujuan hidup. Sehingga jangan takut  bila  sampai  kebersamaan  dengan  keluarga  itu  harus  mengorbankan  uang.  Insya  Allah  pasti akan diganti olehNya walau dalam bentuk yang berbeda.

Maka, kami punya agenda event tahunan yang berusaha jangan sampai terlewati. Yaitu mengikuti event  *Perak*  yang rutin  diadakan  keluarga  Padepokan  Margosari  di  Bulan  Rajab.  Tahun  ini misalnya, ada di Batu dan tepat dilaksankan di pertengahan Maret selama 3 hari 2 malam. Dari hari Kamis s.d Sabtu.  Maka suami sudah mempersiapkan cuti dr jauh hari.

Kemudian ada event 2-3 bulan sekali dengan komunitas Travelschooler dimana saya dan Teh Dian Maryono     bergabung di dalamnya. Jangan bayangkan kami travelling senang-senang ya. Travelling kami itu semacam edutrip. Jadi kami biasanya mengunjungi sebuah kota dan belajar local wisdom selama 3 hari 2 malam dan tentunya dengan budget ekonomis. Berapa sih ekonomisnya? Paling murah itu 280rb per keluarga  include  tempat  menginap  dan  makan.  Sebab  kami  memanfaatkan  rumah  penduduk dan teman-teman HSers kami yang berada di kota tersebut. 

Jadi kalau saya dan suami itu kalau mau  edutrip  punya  tagline  *Low  Budget,  High  Impact*.  Kemudian  banyaknya  sih  perjalanan insidentil sih mbak, dadakan. Apalagi karena anak kami HS maka lebih fleksibel, ketika suami ada  diklat  atau  dinas  luar  kota  maka  dipastikan  kami  akan  ikut.  Menginapnya  dimana?  Jika memungkinkan  dananya  untuk  di  hotel  maka  akan  menginap  di  hotel.  Jika  tidak,  ya  saya mengumumkan  kedatangan  saya  di  grup-grup  yg  saya  ikuti.  Biasanya  teman-teman  kami banyak yang menawarkan hospitality-nya.

=================================






0 comments:

Posting Komentar

Salam Kenal



Perkenalkan kami
Komunitas Ibu Profesional Semarang, blog ini berisi tentang informasi kegiatan dari komunitas kami juga beberapa artikel berkaitan dengan
women empowerment dan parenting.

Untuk bekerjasama dan informasi lebih lanjut bisa menghubungi kami di ibuprofesionalsemarang@gmail.com.

Popular Posts