Semarang, Indonesia ibuprofesionalsemarang@gmail.com

Selasa, 22 Agustus 2017

Resume kulwap "Bisnis Berkah Merekah dari Rumah

Resume Kulwap
"Bisnis Berkah Merekah dari Rumah"

Tanggal/ Waktu: Selasa, 15 Agustus 2017 (19.30 - 21.30)




Hold by Rumbel Kelas Bisnis Institut Ibu Profesional Semarang
Ketua Rumbel Kelas Bisnis    : Mbak Esti
Moderator Kulwap        : Mbak Vanny Martianova
Notulen Kulwap        : Marita Ningtyas

Rundown Kulwap Bisnis

  • 10.00        : Pembagian Materi
  • 10.00-17.00    : Peserta dapat mengajukan pertanyaan lewat moderator (wapri)
  • 19.00-19.25    : Opening dan absen dipandu moderator
  • 19.30-20.30    : Jawab pertanyaan oleh pembicara
  • 20.30-21.00    : '30 menit lebih dekat' dengan Mas Radit
  • 21.00        : Penutup oleh moderator

Profil Pembicara

Nama            : Guntur Raditya Wardhana
Tempat/tgl lahir    : Semarang, 17 Juni 1987
Alamat        : Gedung Suara Merdeka Lantai 12.
Status            : Sudah menikah.
Istri            : Ibu Fertilina Hardiyani.
Sudah dianugerahi 2 putri kembar:
  • 1. Kidung Prashanti Wardhani
  • 2. Kirana Prashanti Wardhani   

Pendidikan        :
  • Tk Hj. Isriati Semarang
  • SDN Sompok 3 Semarang
  • SD Islam Hidayatullah Semarang
  • SMP 5 Semarang
  • SMA 3 Semarang
  • UGM Fakultas Isipol UGM Jurusan HI.

Usaha Bisnis yang dijalani:
  • Dige, anucara Indonesia
  • Kinarya Kreasi.
  • Laxita Paramitha, cv.
  • PT Talijagat utama.
  • PT Mustika Surya Buana.
  • PT Bhinaya Laxita Paramitha
  • PT Cita Kayana semesta
  • PT Perjalanan ibadah Indonesia
  • PT Kinarya Laxita Paramitha
  • PT kinarya Kayana semesta
  • PT Bhinaya Kreativa indonesia

Visi dan Misi Hidup        :
Filosofi bisnis menciptakan perusahaan yang menciptakan kemanfaatan bagi banyak orang

Materi Kulwap

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Selamat Pagi Ibu2 yang sangat luar biasa, perkenalkan, saya Guntur Raditya Wardhana, CEO Laxita Paramitha Group.
Allah telah memberikan kasih sayangnya yang tak terhingga kepada saya, sehingga saat ini saya telah memiliki 9 perusahaan dengan dibantu oleh lebih dari 65 orang karyawan; beberapa diantaranya telah membantu saya selama lebih dari 7 tahun.

Perusahaan yang saya pimpin telah berhasil menjadi market leader di Kota Semarang, salah satunya bahkan menjadi satu-satunya perusahaan di Semarang yang memberikan jasa sesuai bidang yang kami geluti.
Dalam 2 sampai 3 tahun ke depan, sesuai dengan proyeksi yang kami susun, grup kami insya Allah telah menjadi salah satu korporasi terbesar di Kota Semarang, dengan estimasi nilai kelolaan bernominal triliun rupiah.
Namun semua yang saya dapatkan tersebut tidaklah datang tiba-tiba. Selamat datang di dunia saya, dunia dimana Allah SWT menunjukkan betapa ia mengasihi kita semua.
Bawah Trotoar.jpg
Di atas adalah gambar kolong jembatan Lempuyangan, Jogjakarta. Kolong jembatan ini adalah tempat saya mengawali bisnis saya.
Jika ada ungkapan “memulai bisnis dari bawah kolong jembatan”, maka saya melakukannya betul-betul secara harfiah : memulai dari bawah kolong jembatan.
Saya tidak memiliki cukup uang untuk menyewa kantor di saat awal kami memulai usaha dulu. Saya hanya memiliki uang sejumlah 100 ribu rupiah yang waktu itu saya niatkan sebagai modal. Modal inilah yang kemudian saya putar, sehingga dalam 10 tahun, saya bisa memiliki apa yang saat ini Ibu saksikan; dan dari 100 ribu itu pulalah, saat ini saya bisa berada di kelas ini bersama Ibu-ibu sekalian.
Saya bukanlah seorang yang religius. Bahkan ketika di awal saya memulai bisnis, saya hampir tidak konsisten menjalankan ibadah yang diwajibkan dalam agama saya. Namun, sulit untuk tidak mengakui bahwa apa yang saya dapatkan saat ini adalah bukti kasih sayang-Nya kepada saya.
10 tahun terakhir dalam hidup saya adalah masa yang penuh dengan keajaiban. Hampir setiap saat saya membuktikan sendiri kasih sayang-Nya dan janji-janjiNya.
Berawal dari suatu dini hari di akhir tahun 2007. Saat itu saya sedang menempuh studi saya di UGM, di jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Malam itu sekitar pukul 01.00, saya terbangun. Seperti layaknya orang yang terbangun di tengah malam, yang pertama kali saya cari adalah air minum karena rasa haus yang teramat sangat.
Namun saat itu air dalam galon telah habis, dan bahkan segelas air mineral pun saya tidak punya. Saya coba masuk ke rumah Ibu Kos untuk mengambil air, namun ternyata dapur rumah beliau terkunci. Malam itu, saya tidak memiliki uang sepeser pun, dengan bensin motor telah habis, dan pulsa juga tidak lagi cukup untuk menelepon.
Sebagai seorang anak yang paham betul bagaimana kesulitan Ibu saya dalam membiayai biaya kuliah saya di Jogja, saya tidak berani untuk meminta uang dari Ibu saya di luar apa yang beliau berikan kepada saya. Sehingga, apa yang selama ini diberikan Ibu saya selalu saya cukup-cukupkan. Namun malam itu, ternyata uang saya tidak cukup untuk sekedar membeli minum.
Dalam kondisi haus itu, saya menangis. Bukan menangis karena haus atau kesakitan, tapi lebih karena merasa nelangsa dan sedih. Namun dalam tangis itu saya menemukan tekad untuk melakukan sesuatu yang lebih. Dan kejadian malam itu menjadi titik balik dalam hidup saya.
Pada pagi harinya, saya menjadi pribadi yang lebih peka terhadap bukti kasih Allah kepada saya. Kejadian pertama yang saya alami adalah, tiba-tiba Adik saya menelepon dari Semarang, diutus oleh Ibu saya untuk menanyakan keadaan saya. Dan Ibu saya mengirimkan sejumlah uang untuk saya pagi itu juga. Allahu Akbar.
Uang yang dikirimkan oleh Ibu saya tersebut sejumlah sekitar 200 ribu rupiah. Uang tersebut saya bagi, senilai 100 ribu rupiah saya lipat kecil dan saya selipkan di dalam dompet. Sedangkan sisanya saya gunakan untuk biaya hidup.
100 ribu rupiah yang saya selipkan dalam dompet tersebut saya niatkan untuk saya jadikan modal bisnis saya. Tidak langsung saat itu saya berbisnis, karena saya harus menemukan bentuk bisnis yang tepat yang memungkinkan saya jalankan dengan modal kecil dan bisa saya kerjakan sambil kuliah.
Sekitar 2 bulan uang tersebut tidak tersentuh, dan ide bisnis belum juga saya temukan. Hingga pada suatu ketika saya mendapatkan ide bisnis pertama yang menurut saya paling masuk akal : menyediakan jasa akomodasi bagi peserta UM UGM dari Semarang. Bagi saya, bisnis ini adalah suatu hal yang masuk akal karena sudah pernah saya lakukan bersama teman saya di tahun sebelumnya dalam skala yang lebih sederhana. Selain itu, saya merasakan sendiri susahnya mengikuti UM UGM di Jogja dengan kondisi saya harus berangkan sendiri tanpa didampingi orang tua.
Modal 100 ribu rupiah yang tadi saya simpan, saya bagi menjadi dua. 50 ribu rupiah saya gunakan untuk cetak selebaran dan foto copy formulir pendaftaran. Sedangkan 50 ribu sisanya saya gunakan untuk mengajak teman-teman saya membantu saya dalam project ini, dengan cara mentraktir mereka di angkringan di kolong jembatan Lempuyangan.
Alhamdulillah, project pertama saya ini memberi hasil yang luar biasa bagi saya. 82 orang peserta memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengurus akomodasi mereka dalam mengikuti UM UGM, dan saya mendapatkan keuntungan bersih di atas 8 juta rupiah. Selain itu, saya masih mendapatkan bonus : 1 orang peserta menjadi pacar saya, dan 1 orang peserta lainnya ternyata adalah wanita yang diciptakan Allah untuk saya dan menjadi istri saya.
Berbekal keuntungan yang sangat besar untuk ukuran saya saat itu, bersama dengan seorang teman yang telah sangat percaya kepada saya ketika pertama kali  menyatakan ide bisnis ini, namanya adalah Thedy, kami memulai bisnis dalam skala yang sedikit lebih besar.
Kami membentuk perusahaan event organizer. Kenapa EO? Karena kami berasumsi pekerjaan EO sifatnya insidental dan bisa kami kerjakan sambil kuliah. Namun ketika pada akhirnya klien pertama kami memberikan kepercayaan kepada kami untuk menangani salah satu event mereka, ternyata pekerjaan yang kami pilih tidak sesederhana yang kami bayangkan. Sehingga kami terpaksa harus memilih antara bolos kuliah untuk mengerjakan event atau melepaskan pekerjaan tersebut. Teman saya memilih kuliah, dan saya memilih melanjutkan pekerjaan. Sehingga saya kembali menjalani ini sendiri.
Singkat cerita, event pertama ini berjalan dengan sangat baik. Tapi jangan bayangkan event ini adalah event besar. Event pertama saya ini adalah event dari sebuah perusahaan farmasi besar, yang kemudian menjadi klien loyal kami lebih dari 8 tahun, dengan nilai hanya 600 ribu rupiah. Keuntungan yang saya dapatkan kurang dari 100 ribu rupiah dan itupun masih dipotong pajak dan ditodong traktir oleh klien saya.
Kenapa waktu itu saya mengambil pekerjaan tersebut padahal jelas-jelas nilainya tidak "worth it” ?
Saya adalah orang yang sangat percaya pada kesempatan. Saya yakin, walau nilainya kecil, event tersebut dapat menjadi ajang pembuktian diri saya bahwa saya mampu mengerjakan hal yang lebih besar. Dan Alhamdulillah, perkiraan saya betul. Event tersebut menjadi awal masuknya event-event lain yang lebih besar bagi saya. Hingga saat ini, dari klien pertama saya tersebut, saya telah dipercaya menangani seluruh brand utama mereka. Bahkan, saya dipercaya pula untuk menangani sebuah brand tetes mata ketika baru mereka akuisisi dari perusahaan farmasi lain.
Bisnis saya terus berkembang sehingga saya dihadapkan pada pilihan : memilih bekerja atau melanjutkan studi saya.
Pada saat itu, bisnis saya sedemikian berkembang sehingga saya harus lebih banyak beraktifitas di Jakarta ketimbang Jogjakarta. Dan konsekuensi logisnya adalah saya jadi sering bolos kuliah.
Di awal tahun 2011, masa studi saya sudah hampir habis. Artinya, dalam waktu dekat saya akan DO jika saya tidak segera menyelesaikan studi saya. Saya galau. Sangat galau. Karena pada saat itu pekerjaan sedang banyak2nya dan secara value sangat sayang untuk dilepaskan. Tapi lagi2 Ibu saya menyelamatkan saya.
Sebagai komisaris di perusahaan saya, Ibu saya memiliki hubungan personal yang baik dengan klien-klien saya. Dan yang beliau lakukan sungguh di luar dugaan saya. Beliau menghubungi klien-klien saya dan meminta agar saya jangan diberi project dulu! Beliau meminta waktu 6 bulan kepada klien-klien saya supaya saya dapat fokus menyelesaikan kuliah. Dan Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan studi saya tepat waktu : 6 tahun 11 bulan. Lulus tepat 1 bulan sebelum DO.
Alhamdulillah, ridha orang tua adalah ridha Allah. Setelah saya lulus, saya memutuskan membuka kantor di Jakarta. Hasilnya, bisnis saya berkembang luar biasa cepat. Dalam 3 tahun, kami telah berhasil meng-amplify cakupan bisnis kami. Dari EO, kami telah bertransformasi menjadi Agency Marcomm yang bidang layanannya lebih luas. Jumlah karyawan kami pun terbilang cukup banyak saat itu. Mencapai lebih dari 20 orang. Pun, kami berhasil mendapatkan kepercayaan dari 8 perusahaan farmasi, 4 perusahaan consumer goods, dan 3 lembaga pemerintah untuk mengelola event dan marcomm strategic mereka.
Di puncak kesuksesan itu, saya diberi nikmat yang luar biasa bersama dengan ujian yang kali ini lebih berat. Alhamdulillah pada saat itu Allah mempercayakan kepada kami putri kembar. Namun, saya dan istri saya belum yakin dapat membesarkan anak tanpa bantuan keluarga di Jakarta. Sehingga, kami memutuskan agar istri saya pulang ke Semarang untuk tinggal bersama dengan orang tua kami.
Dengan kondisi seperti itu, saya harus bolak balik Semarang Jakarta setiap minggu. Senin pagi saya berangkat ke Jakarta dan Jumat sore saya kembali ke Semarang. Dan tiba suatu masa dimana Ibu dan Budhe saya menegur saya. Beliau mengingatkan bahwa tidak baik seorang ayah hidup terpisah dengan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Karena tanggung jawab terhadap keluarga bukan hanya secara finansial, tapi juga secara nyata hadir untuk keluarga saya.
Pilihan bagi saya saat itu sangat berat. Antara memboyong istri dan 2 anak saya yang masih bayi ke Jakarta, atau saya memindahkan operasional perusahaan saya ke Semarang.
Ibu saya menyarankan saya untuk pulang. Sesuatu yang sangat sulit saya terima secara logika saat itu. Lagi-lagi saya galau. Dan saya putuskan untuk mengabaikan saran Ibu saya. Saya tetap dengan rutinitas saya bolak balik Semarang Jakarta. Hingga pada suatu ketika saya baru pulang dari Jakarta, membuka pintu rumah, dan... anak saya berjalan tertatih2 ke arah saya sambil memanggil saya : "babap".
Seketika itu, saya menyadari bahwa saya telah salah karena telah mengabaikan saran Ibu saya. Saya tidak pernah melihat anak saya belajar berjalan. Saya juga tidak pernah mendengar anak saya belajar berbicara. Dan tiba-tiba mereka sudah bisa berjalan dan memanggil saya!
Hari itu saya putuskan untuk memindahkan perusahaan saya ke Semarang, apapun resikonya.
Hasilnya, dari 20 orang lebih karyawan saya, yang bersedia ikut ke Semarang hanya 2 orang. Dan belasan klien saya menyatakan untuk sementara belum dapat menggunakan jasa kami karena faktor jarak yang akan menyulitkan kami untuk berkomunikasi.
Kami telah beroperasi di Semarang, dan dunia terasa gelap bagi saya. Tidak ada klien besar seperti di Jakarta. Biaya operasional terus berjalan. Dan ada karyawan yang saya tanggung. Tapi saya yakin, keputusan saya tidak salah. Karena, ridha Allah ada pada orang tua. Dan saya yakin orang tua lebih ridha saya pulang daripada saya tetap bertahan di Jakarta. Maka, saya mencoba mencari apa yang Allah rencanakan kepada saya. Karena saya percaya, Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar kemampuannya.
Tak disangka, ternyata pulang ke Semarang ini justru menjadi titik tolak bagi saya untuk melompat lebih tinggi lagi. Saya melihat peluang yang baik di Semarang di bidang properti. Karena belum ada satupun agency marcomm yang memiliki layanan selengkap kami.

Maka, saya mengarahkan agency kami menjadi agency yang fokus mengerjakan marcomm bagi developer di Semarang. Kebetulan, kami telah beberapa kali mengerjakan project marcomm untuk beberapa klien kami sebelumnya di Jakarta.
Hasilnya cukup menggembirakan, karena hampir seluruh project property besar di Semarang telah menggunakan jasa kami. Dan bonusnya, saya melihat ada peluang yang sangat besar di bidang properti. Bukan lagi sebagai agency marcomm, tapi sebagai developer.
Saya melihat potensi yang luar biasa dari perkembangan Kota Semarang dalam 3-5 tahun ke depan, berkaitan dengan berkembangnya kawasan industri di sekitar Kota Semarang. Sehingga, saya yakin dalam beberapa tahun ke depan, sektor properti akan booming dan memberikan keuntungan yang menjanjikan.
Dan bagi kami, pekerjaan sebagai developer sebenarnya bukan suatu hal yang asing. Karena sebagai penyedia jasa integrated marcomm agency, sebenarnya kami selama ini lebih banyak bertindak sebagai “developer bayangan” yang mengerjakan seluruh pekerjaan developer; mulai dari tehnik, perencanaan, marketing, sales, bahkan hingga perijinan. Sehingga sebenarnya, di awal-awal masa kami kembali ke Semarang, perusahaan kami sedang bertransformasi menjadi perusahaan developer properti.
Maka, kami tekadkan untuk memulai proyek properti milik kami sendiri.
Allah sangat sangat baik kepada kami. Karena jalan kami di bisnis ini begitu mudah. Mulai dari proses akuisisi lahan yang sangat mudah (biasanya proses akuisisi lahan ini rumit dan berbelit-belit), perijinan yang tidak kalah mudah dan cepatnya, hingga dukungan dari orang-orang luar biasa yang bergabung bersama perusahaan kami. Berkah dan kasih Allah melimpah ruah kepada saya.
Singkat kata, disinilah saya sekarang. Bisnis marcomm saya berjalan dengan baik karena klien-klien lama saya mulai kembali menghubungi kami (mereka sudah menganggap jarak bukan lagi masalah), saya saat ini telah memiliki team operasional mandiri di Jakarta, bisnis berkembang pesat jauh lebih dari yang bisa saya bayangkan sebelumnya, dan saya sedang menyiapkan 8 proyek properti lain di Semarang, Bandung, Balikpapan, Banjarmasin, dan Jogjakarta, yang sebagian besar akan mulai di launching sebelum akhir tahun ini. Allahu Akbar.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa segala yang terjadi dalam hidup saya bukanlah kebetulan. Karena bagi saya, Tuhan saya telah mengatur semuanya.
Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa yang bisa kita lakukan hanyalah berproses dengan benar. Sekali lagi, berproses dengan BENAR. Karena hasil merupakan hak Allah. Seberapapun keras saya berusaha, jika ternyata Allah tidak berkehendak, maka tidak akan terjadi. Namun justru ketika saya sudah di titik pasrah, dan saya hanya berfokus ke proses, disitulah jalan dari Allah mulai terbuka. Dan jalan dari Allah tersebut adalah jalan yang bagi saya sangat nyaman dijalani. Sangat mudah, sangat barokah hasilnya.
Dari perjalanan hidup itu pula saya belajar untuk selalu mencari ridha Allah. Dan karena saya laki-laki, maka ridha Allah ada di orang tua dan istri saya. Maka, yang bisa saya lakukan adalah mengharap ridha dari kedua orang yang sangat menyayangi saya tersebut dengan sebaik-baiknya. Dengan berharap Allah pun akan ridha kalau mereka berdua ridha. Alhamdulillah, doa saya terjawab.
Hal lain yang saya pelajari adalah untuk tidak pernah berputus asa terhadap apapun kondisi kita. Ketika saya memulai, kondisi yang saya alami begitu berat. Namun saya selalu ingat janji Allah, yaitu Ia tidak akan memberikan ujian melampaui kemampuan hamba-Nya. Sehingga, saya menjadi sangat yakin apabila mendapat suatu kesulitan, maka saya pasti bisa melewatinya. Hal ini kemudian saya implementasikan termasuk ketika kondisi kami tidak sedang kesulitan. Karena janji Allah tersebut saya terjemahkan pula menjadi “setiap kesempatan yang datang kepada saya, pasti Allah telah ijinkan saya ambil, dan apapun kesulitan yang akan saya hadapi di kemudian hari, Allah pasti akan beri jalan keluar”. Hal itu yang menjadi pegangan saya sehingga saya dapat meng-amplify bisnis saya menjadi sedemikian besar dalam waktu relatif singkat.
Lalu, bagaimana jika kesulitan itu kemudian benar-benar muncul ? Saya juga memegang janji Allah yang lain yaitu surat Al Insyirah ayat 5-6; yang terjemahannya kurang lebih “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Janji ini Allah ulang hingga 2x. Sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk khawatir terhadap apa yang akan terjadi kepada saya di kemudian hari. Karena Allah telah menjamin hamba-Nya yang selalu berharap kepada-Nya.
Satu hal lain yang mungkin dapat saya bagi dengan Ibu-ibu sekalian adalah, Allah telah berjanji untuk membantu kita apabila kita membantu urusan orang lain. Dalam bahasa mudahnya, sedekah. Maka saya mempraktekkan hal tersebut. Dan Alhamdulillah, Allah selalu memberi karunia bagi saya melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Demikian Ibu, yang dapat saya share bersama Ibu-ibu yang luar di IIP. Semoga pengalaman saya ini dapat menjadi inspirasi bagi Ibu-ibu untuk segera memulai apa yang selama ini tertunda.
Selama niat kita benar, kita mendapat ridha dari orang-orang yang berhak atas diri kita, dan kita berproses dengan benar, maka insya Allah, Allah akan membukakan jalan bagi kita. Mungkin jalan yang terbuka untuk kita tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kita. Namun yakinlah, apapun jalan itu, selama kita yakin itu jalan yang Allah pilihkan untuk kita, maka itu adalah yang terbaik kita. Dan jika kita menghadapi masalah, maka kita ingat janji Allah tadi. Sehingga kita yakin bahwa kita bisa melewati masalah itu dengan ridha Allah.
Wabillahitaufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum wr.wb.

Question and Answer

(note: jawaban dari Kak Radit yang dicetak miring)
1. Prima dari Malang:
Assalamualaikum wr wb
Kak Radith, pasti senang sekali ya kalau dari rumah saja bisnis berkah dan merekah. Saya juga pengen. Menurut pengalaman kak Radith, media apa yg paling efektif untuk bisnis online? Adakah kiat-kiat khusus untuk menjalankan bisnis online di media tersebut, kak? Dan adakah saran khusus untuk optimalisasi akun bisnis di marketplace seperti tokped, shopee, dll? secara saingannya banyak, hehe. Terimakasih kak Radith.
Menurut saya media yang paling efektif untuk berbisnis online adalah harus disesuaikan dengan karakteristik produk dan pembelinya. Jika produk yang dijual menyasar target market Ibu-ibu, hingga saat ini masih lebih efektif menggunakan media facebook. Namun jika menyasar segmen anak muda, maka akan lebih efektif menggunakan media instagram. Untuk segmen pria / bapak-bapak, media yang paling sesuai adalah marketplace semacam tokopedia, bukalapak, atau sejenisnya. Sedangkan lazada dan zalora lebih tepat untuk segmen kelas menengah keatas.
Untuk kiat-kiat supaya bisnis online lebih berhasil di media tersebut, yang paling sebenarnya adalah AMANAH. Implementasinya, bisa dengan ketepatan waktu kirim, kualitas barang sesuai dengan yang dipromosikan, bentuk dan ukuran barang sesuai ekspektasi, dan lain sebagainya. Hal lain yang penting diperhatikan adalah kecepatan waktu dalam merespon. Hal ini yang seringkali diabaikan oleh Ibu yang bekerja dari rumah. Karena customer tidak ingin mendengar alasan ibu slow respon karena sedang memasak atau apapun itu.
Untuk optimalisasi marketplace, bisa dengan menggunakan promosi di socmed yang ada direct link ke marketplace kita. Selain itu, mohon jangan gunakan nama yang sifatnya personal. Misalnya nama marketplace nya “lapak bunda dafa” atau sejenisnya. Lebih baik menggunakan nama yang kesannya strong dan sudah stabil.

2. Esti dari Semarang:
Bagaimana cara mengoptimalkan bisnis di rumah agar berkelanjutan karena di rumah peran kita juga sebagai ibu dan istri? Terima kasih.
Bagi saya ini pertanyaan yang paling berat. Sebagai Ibu, prioritas utama tentu adalah keluarga. Sedangkan dalam berbisnis, komitmen dan konsistensi mutlak diperlukan. Saran saya adalah Ibu memilih bisnis yang tidak memerlukan komitmen tinggi dalam hal waktu dan kecepatan merespon pelanggan. Bisa dilakukan dengan menghindari bisnis retail. Jadi Ibu bisa menyasar market yang frekuensi komunikasinya tidak terlalu sering. Misalnya menjadi suplier untuk dipasarkan kembali oleh retailer (handicraft, pakaian, frozen food, dll) yang memberikan Ibu toleransi waktu lebih lama untuk merespon.


3. Primatika -  Semarang:
AssalamuAlaikum wr wb
Kegalauan emak-emak bakulers ni, berapa persen dari omzet penjualan yg boleh kita gunakan utk keperluan pribadi? 😬 dan tips memisahkan antara uang pribadi dan uang dagangan, biar tidak mudah terambil untuk keperluan yang tidak ada hubungannya dengan dagangan. Terima kasih.
Mungkin lebih tepat jika dihitung bukan berdasar omset tapi berdasar laba. Tidak mudah Bu menentukan berapa besar laba yang bisa dipakai dan berapa yang harus ditahan untuk menambah modal. Karena hal ini sangat tergantung dengan nilai modal barang yang Ibu jual / pasarkan. Dan semakin besar perputaran uangnya, biasanya akan semakin kecil laba yang diambil untuk pribadi. Saran saya, Ibu memperlakukan diri Ibu sebagai karyawan yang harus digaji setiap bulan. Misalnya setiap bulan Ibu menerima gaji 3 juta. Maka jika laba lebih dari 3 juta, silakan ambil sebagai gaji dan sisanya ibu masukkan sebagai tambahan modal. Namun jika laba tidak mencapai jumlah tersebut, maka gaji ibu diturunkan jumlahnya.
Untuk memisahkan antara uang pribadi dan uang dagangan, cara paling mudah adalah memisahkan kotak uangnya. Bisa berupa dompet yang terpisah (jika tunai) atau rekening yang berbeda. Mencampurkan rekening pribadi dengan usaha seringkali menjadi awal kehancuran sebuah bisnis.

4. Wahyu dari Ponorogo:
Saya ingin mulai bisnis rumahan tapi belum punya modal, bagaimana ya solusinya?
Ingin bisnis rumahan tapi tidak punya modal? cara paling mudah adalah menjadi reseller / mediator / perantara. Jika kita perhatikan, Go-Jek adalah sebuah perusahaan yang hanya mengelola supply dan demand. Mereka tidak perlu modal motor, atau apapun itu. Mereka hanya menjadi mediator antara konsumen dan driver. Hal ini secara kasar bisa saya gambarkan sebagai Makelar. Dalam skala lebih kecil, Ibu bisa mengelola kebutuhan ini dari lingkungan terdekat Ibu. Sebagai contoh, Agent Properti. Mereka mengelola kebutuhan ini dengan biaya yang sangat minimal. Ibu bisa memulai hal ini dari rumah dengan menjalin jaringan melalui teman-teman Ibu yang belum terkoneksi.

5. Fauzia Chafitsa:
Pertanyaan saya bagaimana cara terbaik untuk menentukan harga jasa? Terima kasih.
Ibu, harga kita terbentuk kita sesuai dengan kualitas kita. Kalau kata orang Jawa, ana rega ana rupa. Sangat sulit menentukan tarif untuk sebuah jasa. Namun, tentu kita tahu tarif umum untuk bidang jasa yang Ibu geluti. Cobalah mencari informasi tarif dari rekan / kompetitor, kemudian pastikan kualitas jasa Ibu lebih baik dari mereka. Namun, jangan buru-buru terapkan tarif lebih tinggi. Biarkan klien / pasar yang menentukan seberapa tinggi kenaikan tarif jasa Ibu. Kuncinya, semakin sibuk / semakin sedikit waktu Ibu yang tersisa untuk melayani klien, maka semakin tinggi tarif jasa usaha yang Ibu kelola.

6. Dyah -  Jakarta:
Setelah baca materi, di sana tertulis ridho dan dukungan orang tua/ibu sangat berpengaruh ya. Bagaimana jika, orang tua/ibu kurang mendukung gerak kita berdagang, padahal dagang menjadi satu kekuatan kita? Latar belakang orang tua/ibu juga berdagang sebenarnya.
Pengalaman saya membuktikan bahwa lebih baik menuruti saran orang tua. Seperti telah saya sampaikan sebelumnya, saya telah berhenti mencari jalan saya sendiri. Dan dengan begitu, Tuhan saya membukakan jalan yang tidak saya sangka-sangka sebelumnya. Karena tidak selamanya jalan yang menurut kita baik betul-betul baik menurut Tuhan. Anggap saja Bu, kita memohon Tuhan meridhai kita dengan cara kita menuruti orang tua kita. Masih memiliki Ibu adalah sebuah nikmat dari Tuhan yang tidak terkira Bu. Dalam beberapa kesempatan talkshow, saya mendapati berbagai testimoni dari mereka yang menyesal karena tidak menuruti apa yang disarankan oleh orang tua semasa mereka hidup.

7. Khotim dari IIP Solo:
Assalamualaikum, saat ini sedang menekuni usaha layanan psikologi, event dan tes STIFIn. Mau menanyakan, aktivitas harian apa saja yang dilakukan, mulai dari bangun pagi hingga tidur malam, yang sekiranya menunjang aktivitas usaha plus sinergi untuk mengasuh anak?
Waalaikumsalam. Innamal a’malu binniyat. Ketika bangun pagi, bisa dicoba dengan meniatkan hari ini segala yang Ibu lakukan adalah untuk Ibadah. Dengan begitu, baik bekerja maupun mengasuh anak akan menjadi ibadah untuk Ibu. Hal ini cukup membantu dalam mempertahankan motivasi dalam menjalani pekerjaan sambil mengasuh anak. Semakin ikhlas Ibu menjalaninya, akan semakin banyak kemudahan yang akan Ibu dapatkan. Dam mungkin sedikit tips adalah  sedekah di pagi hari. Melihat senyum dan mendapat doa dari orang kita bantu di pagi hari bagi saya sangat mengangkat semangat untuk berbuat lebih baik di hari itu Bu.

8. Deasy - Solo:
  • Bagaimana mendapat suntikan permodalan tanpa riba?
  • Banyaknya perusahaan dan ada di berbagai kota tentu banyak juga asetnya. Bagaimana cara menghitung aset yang kena zakat maal? dan biasanya disalurkan kemana?
Terimakasih
Sejauh ini saya menggunakan modal saya sendiri Bu. Sehingga saya cukup kesulitan dalam menjawab pertanyaan Ibu. Saya mengelola modal saya sendiri dari 100 ribu rupiah hingga menjadi senilai saat ini. Prosesnya lama dan berdarah-darah. Karena sebelum kita menarik modal, kita harus menyadari bahwa yang akan kita kelola tersebut adalah hak milik orang lain yang tentunya ada konsekuensi bagi kita untuk gagal. Oleh karena itu, sebaiknya memulai dengan menarik modal dari orang terdekat dengan nilai seminimal mungkin. Jika usaha kita memang berkembang, menarik, dan menguntungkan, maka tanpa kita perlu mencari, penawaran akan modal akan datang sendiri. Hal ini saya alami saat ini ketika tawaran dari bank terus berdatangan. Jika sudah seperti itu, maka cara terbaik adalah dengan tidak memberikan bunga namun menawarkan bagi hasil dengan skema syariah. Skema bagi hasil ini lebih fair karena ada resiko bersama yang ditanggung.
Untuk menghitung aset yang terkena zakat maal, saya mempercayakan ke lembaga zakat yang kredibel. Karena hal ini akan meminimalisir resiko saya salah menghitung. Dalam hal ini, saya menitipkan zakat saya kepada LAZISNU.

9. Anes - Semarang:
  • Bagaimana menyikapi ketika hasil yang kita usahakan tidak sesuai harapan? Bagaimana tipsnya agar kita tidak putus asa?
  • Bagaimana tips menemukan usaha yang sesuai dengan passion kita?
  • Apa langkah-langkah yang perlu kita siapkan untuk memulai merintis usaha?
Terima kasih.
Ketika hasil yang kita dapatkan tidak sesuai harapan, maka saya lebih senang menyikapinya dengan meyakini bahwa ini merupakan yang terbaik dari Tuhan dan mengintrospeksi diri terkait proses yang sudah saya jalankan. Apakah saya sudah berproses dengan benar? Jika sudah, maka berarti Tuhan berkehendak lain. Bagi saya, hak kita hanya berproses sebaik mungkin. Sedangkan hasil adalah murni hak Tuhan yang tidak bisa kita ganggu gugat. Dengan begitu saya akan jauh dari menggerutu atau rasa menyesal atau marah.
Untuk menemukan usaha yang sesuai dengan passion kita, mungkin bisa kita amati dari hobi atau kebiasan kita sehari-hari. Misalnya, coba ibu cek hp / socmed Ibu, page apa yang paling sering Ibu buka. Biasanya disitulah passion kita.
Untuk memulai usaha, bagi saya, langkah yang harus dilakukan pertama adalah NIAT. Niatkan usaha kita untuk ibadah dan niatkan usaha kita untuk bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Kemudian, kita lanjutkan dengan BERPROSES DENGAN BENAR. Jangan melakukan praktik bisnis yang tidak beretika, walaupun kompetitor kita melakukan hal tersebut. Untuk mempermudah diri kita  menghadapi situasi sulit yang pasti akan kita hadapi, maka kita bisa menyiapkan diri dengan meyakini bahwa SEGALA HAL TERJADI ATAS RIDHA ALLAH. Hal ini akan mengakibatkan kita HANYA BERGANTUNG KEPADA ALLAH. Kesalahan utama dalam berbisnis biasanya adalah menuhankan klien atau omset. Hal ini yang ingin kita hilangkan dari perilaku bisnis kita.

10. Ulfa dari Depok:
Assalammualaikum, mas Radit. Saya baru resign dari pekerjaan karena ingin concern dengan tumbuh kembang anak. Tapi ingin juga berpenghasilan meski dari rumah. Ingin jualan tapi bingung. Enggak punya produk. Banyak temen yang nawarin produk punya mereka untuk dijual. Nah… Apakah saya harus memilih salah satu produk, atau saya jualin saja apa yang bisa saya jual..?  Terima kasih.. πŸ™πŸ»
Waalaikumsalam Bu. Menurut saya, kita tentu harus memilih yang mana yang akan kita pasarkan. Karena terlalu banyak hal yang kita kelola akan mengakibatkan kita tidak fokus. Toh Ibu tidak buka toko kelontong kan? Dengan spesialisasi barang dagangan, maka Ibu bisa mengimplementasikan konsep Unique Selling Point. Caranya adalah dengan mengendorse diferensiasi produk yang kita pasarkan dibandingkan dengan produk lain yang sejenis.

11. Sihan  dari Demak:
Assalamu'alaikum.
  • Bagaimana caranya mengatasi keterbatasan waktu kita yang masih punya tanggung jawab di dalam rumah untuk bisa benar-benar fokus terhadap bisnis yang kita jalani?
  • Apakah Mas Guntur menggunakan dana pinjaman bank untuk menambah modal?
Pertanyaan pertama terkait membagi waktu antara bisnis dengan keluarga kurang lebih mirip dengan pertanyaan dari Ibu Esti di Semarang (note: lihat pertanyaan nomor dua). Kurang lebih jawaban saya sama ya Bu.
Hingga saat ini saya masih mengelola bisnis saya dengan modal hasil perputaran saya sendiri. Dalam beberapa tahun ke depan kami memang kemungkinan akan membutuhkan modal dari Bank, namun kami memilih permodalan dari bank dengan skema syariah.

12. Nisa domisili Ungaran:
Saya ibu dari dua putra. Sementara ini belum ada bisnis, dulu pernah bisnis produk MLM kemudian sekarang ikut jualan buku, tapi sejauh ini berjalan saya merasa kalau itu bukan passion saya. Sedangkan sekarang ini saya sedang bercita-cita untuk berkarir di ranah domestik. Pertanyaan saya:
  • Kalau minat saya adalah di bidang masak-memasak dan baru sebatas sebisanya memasak dan ingin ikut kursus memasak, apakah itu bisa ditekuni untuk memulai suatu bisnis?
  • Bisnis apa yang bisa dimulai dari rmh dan dengan modal yang tidak begitu besar dan bisnis itu bisa bermanfaat bagi ibu-ibu di sekitar lingkungan saya?
Terima kasih.
Sangat bisa Bu, karena jika melihat cerita Ibu, maka passion Ibu adalah memasak. Kunci dari keberhasilan bisnis adalah bekerja dengan hati. Dan bekerja dengan hati hanya bisa diciptakan melalui passion. Saran saya, ibu konsisten menekuini bidang memasak ini.
Ibu bisa mulai dengan memberdayakan Ibu-ibu di lingkungan sekitar Ibu untuk memasarkan produk kuliner Ibu. Cara pemasaran paling efektif sebenarnya bukan dengan beriklan tapi dengan Gethok Tular (world of mouth).

13. Novi dari IIP Depok:
  • Bagaimana cara atau tips untuk menjaga semangat di awal usaha dan juga biar tetap konsisten?
  • Apakah boleh minta saran buat suami yang sedang down karena kerja selama 22 tahun dan dipensiunkan dini sudah 2 hari ini, apa yang bisa saya lakukan untuk memotivasi dia memulai usaha. Karena dia sudah tidak mau kerja lagi. 😞
Smg Alloh mmbalas apa yang dilakukan menjadi pahala dan amal kebaikan. Aamiin.
Untuk menjaga semangat di awal usaha dan tetap konsisten adalah mengingat kembali niat kita dalam memulai usaha. Bagi saya, ini adalah motivasi terbaik. Misalnya kita meniatkan usaha kita untuk membahagiakan orang tua kita, maka setiap kita lelah, akan terbayang betapa bahagianya orang tua kita jika kita berhasil.
Terkait suami Ibu, mohon jangan pernah merasa ingin meninggalkan beliau. Jatuh bangunnya beliau sudah ditetapkan oleh Allah. Dan Istri adalah kunci penyemangat bagi seorang suami disaat kita jatuh. Saya tidak mengerti bagaimana karakter suami ibu. Namun bahasa universal yang bisa kita saya rekomendasikan adalah kembali memahami bahwa Allah pasti memiliki rencana lain yang jauh lebih indah. Berputus asa hanya akan memutus rahmat Allah karena berarti kita tidak ridha atas ketetapan Allah kepada kita. Dalam kondisi seperti ini, Ikhlas menjadi kunci turunnya pertolongan dari Allah kepada kita. Hal ini saya sampaikan karena telah berkali-kali saya buktikan sendiri.

14.  Ida dari Semarang:
Bagaimana caranya biar bisa fokus pada apa yang kita kerjakan? Soalnya saya kadang suka meleng dan tergiur pada hal baru yang saya anggap menarik.
*Saya membuat soft interior RT (pernak pernik rumah tangga yang dari kain/jahit), misalnya lihat sulam pingin nyulam liat kriya kertas pingin juga 😁. Kayak maruk untuk mempelajari semuanya, efeknya kerjaan saya jadi tidak fokus dan keteteran😰.
Sama Bu, saya juga mudah fokus dan mudah tergiur dengan hal baru. Hal ini tidak salah, yang penting kita berkomitmen untuk menyelesaikan apa yang sudah kita janjikan ke orang lain / konsumen. Misalnya sudah terima order, maka harus kita selesaikan tepat waktu. Namun sebelum memulai hal baru, pastikan ibu menimbang-nimbang kembali resiko menekuni hal baru tersebut. Untuk memastikan bisnis Ibu berjalan walaupun Ibu tidak fokus, saran saya Ibu menciptakan sistem yang memastikan bisnis Ibu dapat tetap berjalan tanpa campur tangan Ibu.

15. Rani:
  • Bagaimana cara manajemen uang penjualan yang baik?
  • Bagaimana menentukan harga jual ideal untuk suatu produk (barang / jasa)?
Terima kasih banyak.
Nah untuk soal nomor 15 ini sebenarnya sudah terjawab semua Bu di atas. Untuk pertanyaan Ibu terkait management uang yang baik, Ibu bisa melihat kembali ke jawaban saya atas pertanyaan Ibu Primatika (nomor 3).
Sedangkan untuk pertanyaan terkait menentukan harga jual barang / jasa Ibu dapat melihat jawaban saya untuk Ibu Fauzia (nomor 5).
Semoga cukup jelas ya Bu.

16. Endah - Semarang:
Assalaamu'alaikum wr wb mas Radit, salam kenal saya Endah, awal belajar bisnis di perusahaan milik keluarga, lalu mandiri malang melintang di bisnis MLM, sampai ke Asuransi, sampai akhirnya Insyaf kembali ke bisnis yg riil, saya seorang marketing type soft selling yang menjaga baik hubungan sebelum proses closing, menghadapi kondisi di lapangan yang sepak terjang lobi-lobi, saya sering ngelus dada, dan akhirnya sering mengalah, mohon tips dari mas radit untuk tetap bertahan atau putar haluan ke kuadran kiri ya  (pekerja).
Waalaikumussalam Bu. Tipikal Ibu persis seperti saya. Dan itu sebabnya saya memilih menggantungkan diri kepada Tuhan saya. Itulah sebabnya saya memilih menggantungkan diri pada Tuhan. Karena kalau saya tidak berpegang teguh pada Tuhan maka saya akan kalah pada yang berbisnis tanpa etika dan menimbulkan minat saya untuk berbisnis tanpa etika. Ajaibnya banyak bantuan dari Tuhan yang diberikan kepada saya hingga saya bisa bertahan pada posisi ini. Oleh karena itu tidak perlu jadi karyawan karena pasti Tuhan berikan jalan keluarnya.

17. Kiki -  Demak kota wali:
Assalamualaikum. Saya baca sepertinya suami istri ini harmonis dan saling menyayangi ya. Boleh tahu kebiasaan apa yang istrinya lakukan ke suami yang membuat suami tambah sayang😊 jadi bisa saya contoh untuk saya lakukan pada suami saya. Makasih😊
Pertanyaannya seru sekali yang ini ya bu 😁😁😁, keberuntungan saya adalah saya memiliki istri yang mengerti betul sejak saya masih nol dan merintis usaha. Sehingga pola pikir dan sudut pandang yang terbentuk kemudian sama dan chemistry nya "dapet". Satu hal yang menurut saya sangat membuat saya tenang adalah kami jaraaang sekali berantem. Karena istri saya kebetulan adalah istri yang sangat penurut dan tidak banyak menuntut. Istilahnya, sangat kooperatif. Jadi dia menempatkan dirinya sebagai partner saya dalam menjalani hidup, bukan hanya sebagai istri yang meladeni suami.

18. Siti Arum- Depok:
Saya mau nanya, pas memutuskan memilih usaha dan nggak lanjut kuliah ibunya tau trus meridhoi atau itu keputusan mas Radit sendiri?
Waini.. Pertanyaan terakhir menohok sekali. Ibu saya tahu, dan Alhamdulillah Ibu saya ridha. Tapi Ibu mulai worry ketika kuliah saya keteteran. Makanya beliau kemudian memutuskan perusahaan saya harus istirahat sebentar demi memberi saya waktu untuk kuliah. Alhamdulilah selama ini Ibu selalu meridhai apa yang saya lakukan.. Sekali dua kali saya ngga nurut dan saya kapok. Btw, nama Ibu saya Laksita. Mirip nama perusahaan saya ya 😌

30 Menit Lebih Dekat

  1. Winda Suwito:
Mas Radit, saya Winda dari Semarang. Saat ini saya menjalankan usaha dengan keadaan pencatatan keuangan yang masih acakadul, karena saya belum membuat pencatatan yang baik (kadang dicatet kadang enggak)πŸ˜’. Tipsnya dong mas biar disiplin dengan keuangan dalam bisnis rumahan, secara ibu rumah tangga gak bisa liat barang bagus dikit.
Ibu Winda.. Satu hal yang saya yakin akan merubah pikiran Ibu adalah.. PAJAK. jadikan ini motivasi bu, karena kalau suatu saat Ibu kena pemeriksaan pajak dan Ibu tidak bisa menunjukkan catatan keuangan yang benar, maka kita akan kesulitan. Saya sudah membuktikan sendiri. Dan sejak saat itu saya kapok meremehkan masalah pencatatan keuangan. Walaupun itu melalui rekening pribadi. Karena jika suatu saat transaksi Ibu sudah besar, maka pemeriksa pajak bisa saja melakukan pemeriksaan ke rekening Ibu. Saat ini rekening di atas 200jt sudah dipantau pajak loh Bu.

  1. Siti Arum:
Mengenai ini mas bagaimana jika ibu menyuruh hanya menyimpan uang kita? Mau usaha tidak boleh khawatir anak lelah πŸ˜‚ Setiap saya usul usaha ibu saya memilah milih ujung-ujungnya saya jadi mandek dan belum ambil pilihan.
Kalau saya ya nurut saja Bu. Bahkan kalau Ibu saya nyuruh saya nyemplung sumur pun, saya nyemplung kok Bu πŸ˜‚. Perlu dipahami Bu, kita ini tidak sedang mencari rizki, karena rizki kita sudah ada jatahnya. Namun yang kita lakukan sekarang hanyalah mengambil rizki. Tentu kita ingin mengambil dengan cara yang baik.


  1. drh. Anneke:
Saya seorang wanita dengan niat kuat ingin menjadi wirausaha sebagai pekerjaan utama. Filosofi bisnis  menciptakan perusahaan yang menciptakan kemanfaatan bagi banyak orang. Namun ada doa ortu inginnya agar jadi PNS untuk mengangkat di masa tua. mungkin saya akan laksanakan itu setelah cita-cita pure saya sudah mapan. Apa saran mas radit tentang pemikiran saya ini?
Selanjutnya pertanyaan saya, bagaimana mas Radit menggerakkan sistem banyak perusahaan dengan latar belakang yang berbeda, bukan begitu mas? Perusahaan yang tersebut di dalam materi banyak sekali dan sudah didapat dalam umur yang masih muda, mengatur SDM ini loh bagaimana ya mas? Saya memiliki satu usaha saja membangunnya butuh tenaga ekstra + evaluasi juga rutin. Apakah saya bisa konsul berlanjut? Ngarep bnget. Hehhee.
Dulu, Ibu saya ingin saya menjadi diplomat. Itu sebabnya Ibu minta saya selesai kuliah. Dan walaupun usaha saya sudah berjalan dengan sangat baik dan Ibu saya saya ajak terlibat di dalamnya, beliau tetap minta saya ikut tes deplu. Apa yang saya lakukan?
Saya tetap ikut tes deplu sebaik mungkin Bu. Bahkan saya lolos hingga tahap menjelang wawancara akhir. Namun ketika akhirnya saya gugur dalam tes terakhir, saya dan Ibu saya Sama2 lega. Saya lega karena saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk Ibu saya dan Ibu saya lega karena saya sudah berusaha. Masalah hasil, Allah yang tentukan.                        
Terkait memanage bisnis yang sedemikian banyak, Alhamdulillah saya berhasil menciptakan sistem yang membuat saya dapat memastikan perusahaan berjalan tanpa harus saya selalu ikut campur.

  1. Ade Soesanto:
Mas Radit, terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Perkenalkan, saya Ade, dari Purwokerto. Ada yang hendak ditanyakan. Sehubungan dengan perang harga di kalangan pengusaha kuliner di kota Purwokerto. Banyak pengusaha kuliner di Purwokerto yang melakukan perang harga dengan kasih produk pokoknya asal murah. Kualitas entah macam mana. Walhasil yang jualannya sejenis tapi kualitas bagus jadi hancur. Bagaimana ya strategi berniaganya?
Ana rega ana rupa Bu. Ibu jangan larut dalam perang harga. Percayalah, sebenarnya orang bersedia membayar lebih untuk kualitas yang lebih baik. Ibu tentu akan lebih memilih memberi putra putri Ibu minuman sekelas Nutri Sari kan daripada diberi Marimas misalnya.

  1. Ayu - Pemalang:
Nanya dong mas Radith. Kita seumuran, tapi saya masih gini-gini aja. Hihi.. tadi mas Radith sempat menjawab pertanyaan bahwa saran orang tua/ibu harus dituruti. Saya sebagai istri ridhonya ada di suami kan ya mas? Kalau suami dan ibu berbeda pendapat bagaimana? Kebetulan saya lebih sependapat dengan suami dan saya resign dari pekerjaan saya di rumah sakit yang memang membuat saya kurang nyaman dengan waktu bekerjanya. Apalagi sering jadi keluhan anak. Tapi ibu lebih bangga saya bekerja di rumah sakit. Meskipun lama-kelamaan ibu memaklumi keputusan saya. Sekarang saya bekerja di klinik dengan waktu yang tidak sepadat di rs, nyambi mengais rejeki dengan jualan baju online. Mau buka butik lagi rasanya belum dapat semangat dan masih bingung ngatur waktunya. Kok saya curhat ya. Mohon pencerahannya.
Jika sudah jadi istri, ridhanya ada di suami Bu. Karena suami Ibu sudah mengambil tanggung jawab atas Ibu di dunia dan akhirat. Tapi tentunya Ibu tetap harus menjaga perasaan orang tua, sehingga apapun yang tidak sesuai dengan kehendak orang tua tetap kita jawab dengan baik dan tutur kata yang lembut.

  1. Dina Novitasari - Semarang:
Mau nanya nih mas, adakah tips-tips untuk menjalani bisnis yang di dalamnya terdapat kongsi dengan orang lain?
Dipertegas aturannya sejak awal. Prinsipnya, lebih baik berantem di awal daripada berantem di tengah kerjasama. Penyebab utama kongsi pecah adalah terlalu sungkan dan manis di awal.

  1. Nurbaini:
Suami ada usaha bakso, yang memasak dan menjaga warung berbeda, sedangkan tempat juga sewa. Belum ok yang satu mau lanjut lagi buka cabang dan modal ya mau berhutang. Bagaimana menurut mas, saya sebagai istrinya apa yang harus saya lakukan?
Dukung Bu suaminya. Dan jangan henti doakan. Karena karunia terbesar bagi seorang suami adalah doa dari seorang istri. Istri yang saleh mendoakan suaminya lebih terkabul doanya Bu. Nah, mengingat yang suami ibu lakukan berisiko tinggi, maka Ibu perbanyak sedekah. Karena sedekah menunda murka Allah dan menjauhkan dari segala musibah.
Tentunya Ibu sebelumnya sudah menyampaikan kekhawatiran Ibu terkait hutang tersebut. Namun jika ternyata suami Ibu tetap bersikukuh melanjutkan hutang, maka saran saya adalah Ibu dukung dan support dengan menetralisir melalui sedekah. Saya pernah mengalami hal yang sama Bu. Bahkan hutang saya pernah berhutang hingga miliaran. Alhamdulillah dengan sedekah Allah selamatkan saya.

  1. Nenny dari Semarang:
Sebagai istri sebaiknya saya lebih memprioritaskan pendapat suami atau ibu? Ada perbedaan pandangan mengenai bisnis yang akan saya ambil. Matur nuwun πŸ™πŸΎ
Sebagai istri, tentu yang harus Ibu utamakan adalah suami. Karena ridha anak ada di Ibu dan ridha istri ada di Suami. Tapi penyampaian kepada orang tua harus tetap santun dan baik ya Bu.

  1. Meta dari Surabaya:
Apakah saat ini penting memiliki website dengan menjamurnya marketplace yang memberikan kemudahan karena ada diskon, freeong dsb? Jika iya apakah mas radit punya rekomendasi pembuatan wrbsite yang ekonomis atau kalau bisa gratis 😊, bisa dipakai langsung untuk jualan seperti multiply.com dulu?
Website tetap penting Bu untuk kredibilitas usaha kita. Tentu orang akan lebih respect kepada usaha yang punya website pribadi daripada yang pakai gratisan. Untuk mendapatkan jasa pembuatan website yang murah, Ibu bisa coba cari mahasiswa yang bidang studinya Web development Bu. Ini yang dulu saya lakukan saat butuh tenaga kerja murah. Hehehe.. Mereka cukup senang dengan beberapa ratus ribu untuk jasanya Bu.

Penutup dari Narasumber

Beberapa orang bilang, Bisnis itu kejam. Kenyataannya, Bisnis itu memang kejam. Tapi itu tergantung dari sudut mana kita memandang. Saya memilih memandang dari sudut pandang bahwa rejeki itu dari Allah. Tidak perlu kita cari, hanya perlu kita ambil.                        Maka, saya memilih untuk mengambilnya dengan cara yang diridhai Allah.                        Dan terhadap yang bersikap jahat kepada kita, saya memilih untuk tidak membalas dengan jahat. Saya lebih memilih untuk mengasihani mereka. Karena untuk mengambil rejeki yang sudah ditetapkan oleh Allah, mereka harus menggunakan cara yang salah.
***


0 comments:

Posting Komentar

Salam Kenal



Perkenalkan kami
Komunitas Ibu Profesional Semarang, blog ini berisi tentang informasi kegiatan dari komunitas kami juga beberapa artikel berkaitan dengan
women empowerment dan parenting.

Untuk bekerjasama dan informasi lebih lanjut bisa menghubungi kami di ibuprofesionalsemarang@gmail.com.

Popular Posts