Semarang, Indonesia ibuprofesionalsemarang@gmail.com

Senin, 29 April 2019

#CelotehEmak: Mom Shaming? Hempaskan Sajaaah!


Topik diskusi kita di #CelotehEmak hari ini yaitu tentang mom shaming. Ada yang pernah mendengar tentangnya? Atau mungkin tanpa sadar kita pernah melakukannya atau justru menjadi korbannya?

Anaknya umur berapa? Kok kurus banget. Ibunya males nih.
Kok dikasih SUFOR, ibunya nggak mau berusaha nih.
Halah ASInya encer gitu, gizinya kurang.. disufor aja.
Lo lahirannya sesar? Wah belum jadi perempuan sempurna kalau belum ngrasain lahiran normal.
Anak kok dititipin daycare, apa nggak kasihan
Dasar lemah iman, kalau kuat imannya ya nggak mungkin post partum depression.
Kurang tokcer nih, udah nikah lama kok belum hamil juga.
Ya Allah, itu anaknya nggak diajarin sopan santun, sama orangtua kok nggak diajarin salaman.
La digendong terus, pantesan anaknya manja.

Dan masiiiih banyak lagi ungkapan demi ungkapan yang kadang terlihat dan terdengar sepele, tapi bisa jadi menyakitkan buat diri kita/ orang lain yang mendengarnya.

Bahkan tak jarang, banyak ibu kemudian mengalami depresi berkelanjutan karena terus-terusan mengalaminya.

Apa sih Mom Shaming?

Mom shaming adalah istilah yang merujuk pada usaha memalukan ibu lain sehingga membuatnya merasa bersalah. Membuatnya merasa apa yang dilakukannya terhadap anaknya tidak benar. Awalnya mom shaming ini ditujukan pada ibu-ibu yang terkenal, entah itu sosok public figure atau selebgram. Namun semakin ke sini, mom shaming bisa dilakukan pada siapa saja.

Jenis Mom Shaming

Ada banyak cara melakukan mom shaming, namun jika ditelisik lebih dalam setidaknya ada dua jenis mom shaming:

1. Mom Shaming yang Disengaja

Jenis yang ini biasanya dilakukan karena rasa iri atau tidak suka kepada korban.

2. Mom Shaming yang Tidak Disengaja

Sementara jenis yang ini biasanya tidak disengaja dilakukan. Sebenarnya pelaku hanya ingin memberikan masukan atau saran kepada sang korban, namun dilakukan dengan pilihan bahasa yang tidak tepat dan malah menyakiti hati korban.

Fakta Mom Shaming


Perempuan lebih cenderung kejam kepada sesama perempuan, kenapa ya? Bahkan banyak yang menghindari SPOG perempuan dikarenakan banyak yang mulutnya lebih pedas dibanding SPOG laki-laki.

Profesor bidang psikologi di University of Texas, Art Markman PhD, sekaligus penulis buku 'Brain Briefs' memaparkan adanya bukti secara ilmiah dan sejarah yang menunjukkan bahwa manusia dalam kelompok sosial, seperti ibu-ibu dengan anak di usia yang sama seakan meraih posisi yang lebih tinggi dengan mengganggu manusia lain dalam kelompoknya.
Studi yang dibuat oleh peneliti di Simon Fraser University mengungkap, pelaku perisakan biasanya memiliki status sosial yang tinggi. Mereka juga cenderung tidak dalam kondisi depresi atau cemas. Hal tersebut dikaitkan Markman dengan fakta bahwa seorang narsis yang sukses akan mengelilingi diri mereka dengan manusia yang bisa meningkatkan kepercayaan dirinya. Lalu ia akan menggunakan kekuatannya untuk menjaga diri dalam posisi teratas di kelompok.
Berdasarkan sebuah survei di rumah sakit anak di University of Michigan yang dikutip dari Livescience, tindakan mom shaming justru paling banyak dilakukan anggota keluarga. Dari 475 ibu dengan anak usia di bawah lima tahun yang disurvei, sebanyak 37 persen pernah menjadi korban mom shaming dari orang tuanya sendiri. Sebanyak 31 persen melaporkan kritik dari mertua, 36 persen menjadi korban mom shaming pasangan sendiri. Umumnya kritik terbesar terkait pola pendisiplinan anak. Secara keseluruhan survei menemukan 61 persen ibu dengan anak balita mengaku pernah dipermalukan dalam urusan mengasuh anak.
Aplikasi mom.life mengungkapkan fakta bahwa sekitar 79 persen ibu pernah mengalami "mom-shaming" dari ibu lain. Korbannya tak hanya pada ibu-ibu muda yang baru mempunyai satu anak. Ternyata ibu-ibu yang telah mempunyai beberapa anak pun tak menutup kemungkinan menjadi korban.

Dari penelitian ini, maka tak heran jika pelaku mom shaming biasanya dari kelompok-kelompok sosial yang lebih tinggi status sosialnya, merasa memiliki anak yang lebih tua, merasa sudah berpengalaman menjadi ibu, atau merasa memiliki ilmu parenting yang lebih baik. Hmm, jangan sampai ya kita menjadi pelaku-pelaku mom shaming, ladies. Semoga ilmu yang kita dapatkan dari Ibu Profesional justru bisa bermanfaat bagi sesama, bukan menjadikan diri kita sebagai pelaku bullying terhadap sesama ibu. Memberikan saran boleh, namun lakukan dengan bijak dan bahasa yang baik.

Pemicu Mom Shaming


Lantas kenapa sih sekarang semakin banyak pelaku mom shaming, baik itu sadar atau tidak? Ternyata ada beberapa pemicu, antara lain:

1. Caper (Cari Perhatian)

Biasanya pelaku tak mendapat pengakuan dan penghargaan dalam lingkungan sehingga mencari cara agar ia menjadi menonjol dan dihargai. Salah satu dengan mencibir dan menghina ibu-ibu di sekitarnya agar down dan akan menganggap dirinya paling benar.

Seseorang yang tak bahagia atas dirinya, biasanya akan mencari cara untuk membuat orang lain tidak bahagia.

2. Marah

Kemungkinan kemarahan yang tak terlampiaskan pada keluarga atau anak, akhirnya dilampiaskan pada ibu lain. Sehingga, pada saat ia melakukan "mom-shaming" pada ibu lain, ia dapat menyalurkan kemarahannya.

3. Cemburu

Faktanya, setiap ibu mempunyai ciri khas berbeda-beda. Bisa jadi, pelaku merasa cemburu pada ibu-ibu lain yang mempunyai kelebihan. Misalkan, seorang ibu masih bisa merawat dirinya dengan baik meski sudah mempunyai anak. Sedangkan dirinya, merasa tak secantik dan tak seberuntung ibu-ibu yang lain.

4. Repot

Tak dapat diabaikan, kelelahan dalam mengurus anak dan rumah, membuat ibu mudah tersulut emosi. Sehingga, tanpa disadari, perkataan yang keluar dari mulutnya menjadi media tersalurkannya kelelahan yang ia rasakan.

5. Haus Pengakuan

Kita yang ditakdirkan menjadi ibu rumah tangga, pasti sepakat sebenarnya tak meminta lebih penghargaan muluk-muluk dari orang-orang terdekat. Meski hanya dengan kata terima kasih. Tidak menutup kemungkinan, pelaku mom-shaming salah satu motifnya adalah karena dirinya ingin diakui kiprahnya.  Bisa juga karena merasakan post power syndrome, misal dulunya ibu bekerja di ranah publik dengan segala aktivitasnya, lalu memilih menjadi ibu bekerja di ranah domestik.

Ada fase-fase merasa tidak keren, tidak puas dan butuh dihargai. Akhirnya mulai mencari cara biar nampak keren, “aah aku kan IRT, bisa sama anak 24 jam, mereka yang ibu bekerja di ranah publik anak aja dititipin.

Bahaya Mom Shaming

Korban mom shaming bisa merasa sangat ketakutan jika semua yang dilakukannya menjadi bahan perbincangan ibu-ibu lain. Perlahan perasaan takut itu bisa berubah menjadi rasa benci dan dendam. Rasa benci dan dendam yang berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan psikis.

Seorang dokter Richard A. Honaker menyatakan bahwa "mom-shaming" bisa menimbulkan reaksi kimia abnormal dalam otak. Hasilnya, kita menjadi tidak percaya diri hingga depresi.

Setelah tahu bahaya ini, masih mau melakukan mom shaming, meski kita tak sadar melakukannya?

Tips Mengatasi Mom Shaming

Bagaimana kita sebagai member komunitas yang bergerak di bidang parenting, education dan women empowerment menyikapi hal ini?

Untuk yang menjadi korban, setidaknya ada 10 tips untuk menanggapi mom shaming yang ditujukan kepada kita. Apa sajakah?

1. Bersikap legowo alias tenang meskipun sebelumnya tak pernah dikritik atau menjadi korban mom-shaming. Selalu persiapkan mental seakan kita sudah pernah menjadi korban mom-shaming.

2. Memahami bahwa menilai dan mengkritik membuat sebagian orang merasa lebih baik. Misalnya jika pelakunya adalah anggota keluarga sendiri, mungkin mereka ingin terlibat dalam pengasuhan anak.

3. Tetap perhatikan para mom-shamers yang merasa tahu segalanya dan mengirimkan informasi hanya untuk mendengar dirinya berbicara.

4. Mom-shaming biasanya dilakukan seseorang karena ingin menutupi rasa nggak nyaman atau rasa bersalah saat mereka mengasuh anak dengan cara yang berbeda. Jadi, nggak perlu ambil pusing ketika mengalami mom-shaming yang dilakukan orang-orang seperti ini ya.

5. Kurangi waktu kita bersama orang-orang yang menjadi pelaku mom-shaming. Baik itu keluarga atau teman sebagai upaya menenangkan diri.

6. Selalu berpikir bahwa tak ada orang tua yang sempurna. Setiap orang tua pasti pernah membuat kesalahan.

7. Balas kritikan dengan candaan sebagai senjata. Jadi hempaskan saja dengan tawa ala-ala Syahrini. “Baiiik, terima kasih sarannyaaaah cintaaah… tapi kali ini aku mau menghempaskanmuuuh ke ujung duniaaa.” he-he-he.

8. Jangan terpengaruh oleh teman-teman yang pola asuhnya terlihat mulus dan mudah.

9. Ketika para pelaku mom-shaming mengkritik mungkin mereka nggak tahu-menahu tentang kita dan apa yang kita alami. Jadi anggap saja seperti angin lewat.

10. Semua orang tua jauh lebih mengenal anaknya ketimbang orang lain. Untuk itu, tetap yakini bahwa apa yang kita lakukan adalah hal terbaik untuk diri sendiri dan si kecil.

Nah, buat teman-teman yang secara sadar atau tanpa sadar pernah melakukan mom shaming ke ibu-ibu lain… yuk ah tahan jempol dan mulut untuk berkomentar, think twice sebelum memberikan saran dan lebih baik jangan memberikan saran jika tidak diminta, apalagi pada orang yang tidak kita kenal dengan dekat. Bahkan sebaiknya jika orang tersebut kita kenal dekat, ada adab dalam memberikan nasihat bukan? Jangan di muka umum hingga membuatnya malu, dan gunakan bahasa yang baik.
Seringkali tanpa disadari penyampaian lisan ini dapat menyakiti hati orang-orang yang di dekat kita. Mungkin maksud kita hendak menasehati, berbagi cerita atau memberikan solusi. Namun, penggunaan kata tidak pas dapat membuat orang yang kita ajak bicara memaknai perkataan kita berbeda. Mari kita bersama membudayakan berkata hati-hati meski dengan sahabat kita. Karena melalui candaan pun, bisa membuat lawan bicara kita tersinggung.

Ada yang pernah mengalaminya kah? Yuk hari ini kita ngobrol masalah ini dan diskusikan cara terbaik menghadapi mom shaming yang terjadi di sekitar kita.

Dikutip dari buku Resonansi, sebagai sesama perempuan sebaiknya kita bisa saling beresonansi. Resonansi dalam KBBI berarti dengungan/ getaran, peristiwa turut bergetarnya suatu benda karena pengaruh getaran gelombang elektromagnetik luar. Begitu juga diharapkan bahwa sesama perempuan bisa memberikan pengaruh positif, saling mendukung, saling menggetarkan, saling mengingatkan dan saling bekerjasama. Resonansi terjadi ketika antar perempuan saling memahami dan tidak saling menghakimi perjuangan perempuan lainnya. Karena semua perempuan itu hebat dan memiliki perjuangannya sendiri-sendiri.
Salam semangat untuk semua perempuan di Indonesia dan seluruh dunia!


Sumber:

https://www.republika.co.id/berita/kolom/fokus/18/07/29/pci7eg328-mom-shaming-benarkah-ibuibu-tidak-juga-dewasa

https://edukasi.kompas.com/read/2018/12/20/23041341/mewaspadai-bahaya-mom-shaming-dan-5-pemicunya?page=all

https://www.haibunda.com/moms-life/20180921132315-68-26367/10-tips-menghadapi-mom-shaming




Senin, 22 April 2019

Kiat Mengajarkan Anak Untuk Mengelola Keuangan

Setelah belajar mengelola keuangan sebagai seorang manajer, saatnya kita harus mendidik calon-calon manajer keuangan masa depan, yaitu anak-anak kita. Berikut ini merupakan beberapa kiat yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan anak menjadi manajer keuangan yang handal:



1) Mengenalkan Konsep Uang pada Anak

Langkah pertama yang harus kita lakukan yaitu mengenalkan konsep uang pada anak. Ketika anak sudah memasuki usia sekolah dasar dan sudah bisa berhitung maka perkenalkan pada mereka nilai uang mulai dari pecahan kecil. Berikan pengertian dan informasi pada anak mengenai uang dan konsep uang. Mengenalkan uang pada anak secara tidak langsung bisa menjadi media untuk belajar berhitung bagi anak.

2) Memberi Uang Saku pada Anak

Cara selanjutnya untuk mengajarkan anak dalam hal mengelola keuangan adalah memberikan uang saku. Langkah ini bermanfaat untuk mengajarkan pada anak tentang cara mengelola keuangan yang baik. Beri pengertian pada anak supaya menggunakan uang tersebut sesuai dengan kebutuhan dan tidak menghamburkannya. Anda juga harus membatasi dan konsisiten dalam memberikan sejumlah uang bagi anak. Dengan begitu anak akan lebih berhati-hati dalam menggunakan keuangan karena mereka akan menyadari bahwa setiap orang memiliki uang yang terbatas.
Waktu yang tepat untuk mulai melatih anak mendapat uang saku yaitu saat usianya tujuh tahun, karena saat itu anak sudah mulai bisa diajak berpikir secara abstrak. Bisa dimulai dengan memberikan uang saku harian, lalu jika berhasil meningkat menjadi uang saku mingguan dan kemudian siap dilatih diberikan kepercayaan uang saku bulanan. Sudah menerapkan hal ini pada anak-anak, ProSoTan ladies?

3) Mengajarkan Menabung pada Anak

 



Langkah selanjutnya yaitu ajarkan kebiasaan menabung pada anak. Berikan penjelasan pada anak mengenai tatacara mengatur keuangan dengan cara menabung. Selain itu kita juga harus memberi pengertian pada anak tentang manfaat dari menabung. Ajarkan anak supaya menyisihkan sebagian uang jajan yang dimilikinya untuk keperluan masa depan. Pada awal-awal mungkin kita akan mengalami hambatan, akan tetapi hal tersebut jangan membuat putus asa. Lakukan secara bertahap dan penuh kesabaran.

4) Ajarkan Konsep “Utamakan Kebutuhan daripada Keinginan” pada Anak

Ketika anak sudah diberi kepercayaan untuk memegang uang jajan sendiri, kita harus mengajarkan pada anak tentang konsep mengutamakan kebutuhan daripada keinginan. Beri pengertian pada anak supaya membeli sesuatu sesuai dengan kebutuhan bukan untuk kepentingan semata. Konsep ini akan berguna bagi anak sampai tumbuh dewasa. Anak akan tumbuh dengan kemampuan mengatur setiap penghasilan yang diterimanya.

5) Mengajak Anak untuk Berbelanja

Langkah berikutnya untuk mengajarkan cara mengelola keuangan pada anak yaitu dengan mengajaknya berbelanja. Cara seperti ini dinilai lebih efektif dalam hal memberikan contoh tentang mengelola uang. Selain itu, mengajak anak berbelanja merupakan salah satu cara dalam mengajarkan konsep mengutamakan kebutuhan daripada keinginan. Praktik langsung seperti ini akan membuat anak lebih mudah mempelajari dan merekam.

6) Mengajarkan Kebiasaan Saling Berbagi

Lengkapi pelajaran mengenalkan cara mengelola keuangan dengan mengajarkan anak untuk saling berbagi. Ajarkan pada anak supaya menyisihkan sebagian uang jajan untuk mebantu orang yang tidak mampu dan beri pengertian pada anak bahwa tidak semua orang memiliki uang. Dengan begitu anak tidak akan menghamburkan uang dan akan menumbuhkan sifat saling berbagi dengan sesama.
Semoga bermanfaat ya ladies. Tentunya sebelum kita melatih dan memotivasi anak dalam hal mengelola keuangan, kita juga harus sudah oke dalam menjalani peran sebagai manajer ya. Selamat melatih keuangan pada anak!


Sumber:
 http://www.solusisehatku.com/mengajarkan-cara-mengelola-keuangan-pada-anak-sejak-usia-dini

#CelotehEmak: Mom, Lets Learn To Be A Good Finance Manager



Sebagai seorang ibu, kita tidak hanya berperan sebagai pendidik utama anak-anak, namun juga memiliki peran-peran penting dan strategis lainnya, salah satunya yaitu sebagai manajer keuangan. Manajer keuangan keluarga tentu saja tatarannya sudah lebih tinggi dari kasir. Kasir diartikan sebagai orang yang menerima dan mengeluarkan uang, sementara tugasnya manajer keuangan lebih dari itu. Manajer keuangan diharapkan bisa mengelola dan mengatur keuangan keluarga dengan sistematis dan baik sehingga akan berada dalam titik sehat dan aman.

Senin, 08 April 2019

#CelotehEmak: Writing for Healing - Write, Love and Live


Menulislah secara sangat bebas tanpa mempedulikan struktur kalimat dan tata bahasa. Niscaya Anda akan terbebaskan dari segala deraan batin. (Dr. James W. Pennebaker)

Sebelum memulai membaca artikel ini, mungkin teman-teman bisa menengok dulu video berikut:


Sudah ditonton, insya Allah paham ya? Kalau nggak paham, jangan minta admin untuk menerjemahkan ya, mungkin bisa minta tolong Ms. Vanny, PJ Rumbel English. Ok, lets back to the topic.

Adakah diantara teman-teman yang suka menulis? Setuju tidak jika menulis membuat hidup menjadi bergairah? Letupan-letupan perasaan, gejolak gagasan, menuntun jari-jemari untuk mengeja huruf demi huruf, merangkai kata demi kata, menuturkan kesatuan pikiran dan perasaan. Kebebasan menulis berpijak pada keleluasaan menuangkan segala rasa yang dirasakan, tidak terbatas pada aturan-aturan penulisan. Namun ternyata menulis bukan sekedar merangkai sejumlah kata-kata hingga menjadi sebuah alur cerita yang memiliki makna. Menulis bisa membuat perasaan bahagia yang luar biasa. Menyembuhkan berbagai trauma dan menjadi terapi jiwa.

Banyak penelitian psikologis yang membuktikan bahwa menulis dapat mengurangi tekanan jiwa, distress dan salah satu jalan menuju kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Orang yang hobi menulis pasti akan menuliskan apa yang dia sukai dan dia inginkan. Orang yang terbiasa menulis akan menuliskan segala yang dilihat didengar dan dirasakannya. Seorang penulis tak akan pernah berhenti menuliskan semua hal yang ingin dituliskannya tanpa terbatasi ruang dan waktu. Menulis itu menggugah pikiran dan perasaan, open up our mind hingga membentuk sebuah alur menuju penuturan dalam sebuah tulisan. Menjadi kepuasan, kebahagiaan dan kekuatan untuk setiap pribadi yang memaknainya.

Taruhlah perasaan pada sebuah tulisan, niscaya kita akan merasa terpuaskan. Apa pun bentuk dan isi tulisannya. Kesenangan dan kepuasan itulah yang menjadikannya sebagai terapi yang memungkinkan kesembuhan bagi para penderita ketidakseimbangan emosi. Logikanya, mengekspresikan kemarahan, rasa senang atau kekecewaan lewat tulisan itu seperti kita mengungkapkan kemarahan dengan ucapan, hanya medianya berbeda, bukan orang yang ingin kita marahi, melainkan kertas, pena atau sebuah komputer.

Therapy seperti ini sepertinya sangat sesuai untuk orang-orang yang cenderung introvert, sulit terbuka dan berbagi beban dengan orang lain. Perasaan kesal atau marah yang bertumpuk bisa menyebabkan gangguan pada fisik juga, seperti maag bahkan myom. Dalam sebuah tausyiah, seorang ibu rumah tangga pernah mengeluhkan penyakit myom yang dideritanya. Ia meminta kepada ustadz untuk memberikan jalan keluar bagi penyakitnya karena secara medis sudah divonis tidak bisa disembuhkan. Pak Ustaz pun memberikan sebuah solusi spiritual yang secara medis pun sangat logis.

Menurut Pak Ustaz, si ibu harus menghilangkan kejengkelan-kejengkelan di hatinya yang terus bertumpuk dan tak tersembuhkan. Si ibu pun mengakui bahwa selama beberapa tahun, ia menyimpan kekesalan dan kejengkelan terhadap suaminya yang tidak bisa menghilangkan kebiasaannya merokok. Ini merupakan salah satu bukti bahwa kejengkelan perasaan mempengaruhi kesehatan pikiran, sehingga organ-organ tubuh lain menjadi lemah karena asupan dan rangsangan berbagai simpul saraf pun ikut melemah. Masalah yang awalnya terlihat biasa dan sangat sepele bisa berdampak luar biasa dan berbahaya jika tidak ditemukan solusinya. Kasus ini juga membuktikan bahwa menahan beban perasaan lebih menderita daripada sakit fisik yang kentara dan terdiagnosa.

Menyalurkan kemarahan, kebencian dan kekecewaan dengan menulis bisa memberikan efek positif bagi penulisnya. Kelegaan yang didapat sama dengan kepuasan orang-orang yang biasa curhat dengan teman atau sahabatnya. Menulis lebih aman dan nyaman daripada berbicara ke sana kemari mengadukan perasaan. Makanya, banyak penelitian psikologis yang telah membuktikan bahwa menulis dapat menghilangkan efek traumatis pada orang-orang yang menderita gangguan psikologis atau mengalami trauma tertentu. Dengan menuliskan pengalaman pahit atau kenyataan pahit yang dialaminya, trauma seseorang bisa berkurang. Jika hal ini dilakukan secara intensif, kesembuhan adalah sebuah keniscayaan. Yang penting motivasi, keyakinan dan kepercayaan akan kesuksesan/kesembuhan itu tetap dijaga. Insya Allah.

Landasan Teori Writing for Healing


Menulis dapat membuat kita menjadi lebih sehat. Melalui tulisan kita bisa melihat benang merah yang terhubung ke dalam diri kita, yang mungkin saja sedang terluka. Ada kepuasan tertentu yang dirasakan setelah menulis. Banyak yang mengalami perubahan pula setelahnya. Seberat apapun beban yang dirasakan, sesudah tuntas dilepaskan melalui tulisan akan meringankan sesak yang ada dalam dada. Pikiran jadi lebih jernih dan hati tentunya lega, sebab beban batin yang dirasakan sudah terangkat sedikit demi sedikit.

Hubungan antara menulis ekspresif dengan kesehatan ditemukan oleh Dr. James Pennebaker, guru besar psikologi Universitas of Texas, Austin. Penelitian ia lakukan pertama kali di akhir tahun 1980. Pennebaker telah melakukan penelitian tentang kegiatan menulis selama bertahun-tahun. Ia mengatakan dalam bukunya, Writing To Heal, bahwa orang yang terlibat dalam laporan menulis ekspresif merasa lebih bahagia dan berkurang dampak negatif daripada sebelum menulis. Selain itu orang-orang yang memiliki gejala depresi, kecemasan dan gangguan kesehatan mental lainnya juga berkurang dalam beberapa Minggu dan bulan setelah menulis lengkap dengan gejolak emosinya.

Secara sederhana, menulis ekspresif dapat diartikan sebagai usaha berulang untuk mengungkapkan segala emosi yang dirasakan saat stress datang. Dapat pula dimaknai sebagai upaya menuangkan ekspresi dalam tulisan.

Kegiatan ini akan membantu mengembangkan kecerdasan emosional, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik dan menangani masalah lebih sehat. Sangat baik pula untuk membantu anak mengembangkan karakter. Bagi yang memiliki luka batin ini akan membantu orang tersebut untuk dapat menumbuhkan self compassion (kasih sayang pada diri sendiri) dan juga self acceptance (penerimaan diri).

Cara Menulis Ekspresif Sebagai Terapi


Menurut psikolog klinis John F. Evan, inilah hal-hal yang patut diperhatikan saat kita ingin melakukan menulis ekspresif sebagai bagian dari writing for healing:

1. Waktu

Ambil waktu selama 20 menit per hari selama 4 hari berturut-turut.

2. Topik

Pilih topik yang menurut kita bersifat paling pribadi dan penting untuk kita urai.

3. Kontinue

Lakukan terus menerus.

4. Hilangkan Keraguan

Jangan ragu untuk menulis hal yang sangat pribadi. Sebab ini MENULIS UNTUK DIRI SENDIRI. Apa yang kita tulis itu hanya untuk diri kita. Jangan risau kan kaidah, jangan ragu, malu. Sebab sat itu hanya kita dan Tuhan yang tahu tentang tulisan tersebut.

5. Ketahui Batasan Kita

Jika kita menuliskan hal tersebut dan ditengah jalan kita merasakan psikosomatis seperti pusing, mual atau gejala lainnya. Segeralah berhenti, dan mulai lagi saat sudah mereda/membaik.

6. Harapkan Sesuatu

Ada saat diakhir kita menulis perasaan 'down' atau merasa sangat lelah. Tapi itu hanya akan bertahan 1-2 jam saja. Hayati aliran rasanya, refleksikan kondisi kita saat itu. Jujur, jangan ditolak. Gunakan saat itu untuk bermuhasabah, berdoa dan menyampaikan harapan kita pada Tuhan.

Bentuk-bentuk Tulisan


1. Menulis Puisi
2. Menulis Jurnal Harian Bersyukur (gratitude journal)
3. Menulis surat dalam amplop tertutup untuk diri sendiri di masa lalu atau gambaran diri masa depan, atau ditujukan surat untuk orang lain
4. Menuliskan impian, tujuan (bisa dalam bentuk mind mapping)
5. Menulis Cerita pendek/ Fiksi based on true story'
6. Dan masih banyak cara menulis lainnya yang bisa disesuaikan dengan kenyamanan kita.

Manfaat Terapi Menulis

Apa saja sih Manfaat dari Terapi Menulis Ini, mari kita simak hal - hal di bawah ini:

1. Refresh Your Mind

Setelah kita menyelesaikan apa yang kita tulis, kita pasti menghela napas panjang itu adalah tanda bahwa perasaan kita sudah mulai refresh kembali, pikiran pun kembali jernih dan merasa puas karena sudah menyelesaikan tulisan kita. Cobalah untuk membacanya sekali lagi pasti kita akan merasa lebih baik lagi.

2. Knowing Yourself; More Gratitude and Happier

Dengan memulai menulis secara teratur, sejatinya kita akan lebih mengetahui diri kita lebih dari sebelumnya, bahkan perlahan juga bisa mengetahui apa karakter dan bakat yang kita punya. Seiring dengan lebih mengenali diri sendiri, kita bisa jauh lebih paham apa hal-hal baik yang sudah ada di dalam diri kita, dan apa hal-hal buruk yang harus diperbaiki di dalam diri. Proses menulis bisa memberikan langkah kepada kita untuk berubah ke arah lebih baik. Setelah kita bisa menemukan siapa dan seperti apa diri kita, kita bisa jadi lebih bersyukur atas semua hal yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Semakin banyak kita bersyukur, semakin kita akan lebih bahagia.

3. Eliminate Stress

Tentunya dengan kita menulis beban perasaan kita akan terasa berkurang daripada kita hanya menyimpannya di dalam perasaan kita sendiri. kita juga bisa menghilangkan intuisi negatif yang hadir ketika perasaan stress tadi menghampiri kita.

4. Solve Your Problem

Dari semua yang telah kita tulis kita juga bisa mengambil satu titik temu dari permasalahan yang kita hadapi, kita juga bisa melihat permasalahan dengan lebih tenang, dan juga kita bisa menyelesaikan permasalahan dengan lebih efektif. Bahkan di satu titik, kita bisa jauh lebih ikhlas memaafkan hal-hal yang tadinya membuat diri kita marah dan benci.

5. Overcome Missunderstandings

Sebuah kesalahpahaman yang tidak bisa kita selesaikan dengan perkataan bisa kita selesaikan dengan tulisan, sehingga kita dapat memberikan penjelasan yang lebih konkrit dan masuk akal jika ditambahi dengan tulisan.

6. Improve Your Writing Skills

Secara tak sadar semakin sering kita membiasakan menulis ekspresif dalam kaitannya writing for healing, perlahan kemampuan menulis kita pun bisa membaik. Siapa tahu dari titik ini, kita justru bisa meninggalkan jejak-jejak karya.

Memulai Menulis Ekspresif

Tapi sekarang permasalahannya biasanya adalah bagaimana cara kita memulainya, bagaimana kita bisa memulai menulis dengan teratur agar kita bisa terhindar dari yang namanya stress.

Memulai sesuatu memang lebih sulit daripada kita hanya meneruskan sesuatu itu. Memang ketika kita ingin memulai sesuatu, adakalanya kita masih merasa bingung, bimbang mungkin juga galau. Tapi jika kita hanya diam saja maka waktu pun akan meninggalkan kita.

Lakukan langkah-langkah di bawah untuk memulai menulis ekspresif:

1. Lakukanlah dengan rutin dan mulailah dengan menulis hal - hal kecil yang terjadi pada diri kita maupun hal-hal yang terjadi di sekitar kita.

2. Bawalah catatan kecil dan buatlah sebuah catatan secara garis besar terlebih dahulu.

3. Carilah tempat yang tepat untuk menulis, karena privasi kadang dibutuhkan seseorang untuk menulis.

4. Biarkan perasaan kita yang menulis, biarkan mengalir seperti air.

5. Manfaatkan waktu luang kita untuk mencatat dan menulis.

Jadi, sudah siapkah ProSoTan Ladies menulis ekspresif? Dengan cara seperti apa? Apapun cara yang dipilih semoga bisa segera menemukan jalan keluar atas segala permasalahan yang sedang dihadapi.

"Jangan pernah berhenti menulis, karena tulisan pun tidak akan pernah berhenti mengikuti kita, begitu pula dengan kejadian - kejadian yang mengikuti kita. Tumbuhkan ide -ide kreatif dan mulailah berkreasi."

***

Sumber :

Materi workshop writing for healing (Hessa Kartika)

https://www.kompasiana.com/massmaman/5512a236a333117c5eba7e44/terapi-menulis-therapeutic-writing

https://www.kompasiana.com/fiorence18044/5c24da40bde5750218062173/menulis-ekspresif-ternyata-bisa-melepas-stress?page=all

https://positivepsychologyprogram.com/writing-therapy/

https://youtu.be/hbv0kxlFcSY

https://youtu.be/OzDx7-JYVHU










Selasa, 12 Maret 2019

Kenalan dengan PJ Rumbel 2019 - 2020



Masih lanjut berkenalan lebih dekat dengan pengurus Komunitas Ibu Profesional Semarang 2019 - 2020. Di bawah manager offline, ada rumah-rumah belajar dengan segudang kegiatannya. Sekarang kita mau cari tahu siapa saja sih penanggungjawab 6 rumah belajar yang sudah ada di IP Semarang. Mau tahu?

Ada enam rumah belajar (Rumbel) di IP Semarang, salah satunya... Rumbel Craft. Di sini para member Rumbel saling berbagi ide aneka craft, dari merajut, bebikinan mainan anak, sampai aksesoris-aksesoris kece.



Rumbel ini digawangi oleh mbak Sri Hidayati, atau yang akrab dipanggil mbak Ida Sigit.. karena beliau bu Ida istrinya pak Sigit, hehe.

Mbak Ida ini sosok yang thas thes.. badan boleh kecil, tapi soal kreativitas... Jangan ditanya! Bener-bener kreativitas tanpa batas! Bersama rekan-rekan Rumbel Craft, mbak Ida memiliki visi "mengubah sampah menjadi rupiah." .

Kerennya lagi.. kelak hasil dari penjualan kreativitas member Rumbel Craft akan disumbangkan untuk Sejuta Cinta. Masya Allah.. Minta doanya ya agar semua event dan sharing online maupun offline Rumbel Craft bisa berjalan dengan lancar.

Kita lanjut  kenalan dengan salah satu rumah belajar lainnya di IP Semarang. Setelah mengakrabkan diri bersama para emak-emak yang jago mengubah limbah menjadi sampah. Kini saatnya kita berdekatan dengan barisan peramu mantra aksara. Etdaaah.

Di sinilah sarangnya para emak dan embak yang handal merajut dan merangkai kata menjadi sebuah tulisan yang bernas, serta sarat makna. .



Digawangi oleh mbak Ayu Candra Giniarti, Rumbel Literasi Media semakin terdepan... Program-program yang telah tersusun meningkatkan adrenalin bagi para membernya. Setiap bulan akan ada materi kepenulisan tematik beserta challengenya. Hmm, kira-kira bulan ini akan ada tantangan apa ya?

Mbak Ayu Candra yang mengaku sebagai sosok minderan ini dengan sigap mengajukan diri menjadi PJ Rumbel Literasi Media karena merasa terpanggil berbagi manfaat. Karya-karya yang dilahirkan di dunia literasi pun sangat beragam lo. Di balik sosoknya yang lebih banyak diam dan kalem, tersimpan sejuta pesona kata yang luar biasa.

Bagi yang berminat belajar ngeblog, insya Allah Rumbel Literasi Media juga siap memfasilitasi teman-teman, baik secara online dan offline. Syaratnya; 1. Sudah jadi member IP Semarang, 2. Serious, 3. Konsisten. .

So, jika teman-teman merasa menulis adalah passion dan panggilan jiwa, gabung bareng kami di Rumbel Literasi Media yuk 😘😘😘

Selanjtnya kita kenalan sama mbak yang pastinya anggun, feminine dan cantiiik. Lihat aja hasil goresan tangannya emejiing.


Dialah mbak Listkanisa R Mega atau yang lebih dikenal dengan Mega Ummu Ghaziy, PJ Rumbel desain yang memang passionnya bikin desain-desain lucu dengan warna khas pastel yang bikin gemes. .

Cuzz tengok deh akun instagram pribadinya.. elok sangaaat. Siapa yang nggak pengen coba diajarin bikin desain grafis yang kece badai seperti itu? Bersyukur di IP Semarang Ada rumbel desain kan yaa.. jadi nggak perlu les mahal-mahal.. eeeh 🤣🤣🤣.
 

Kesehatan adalah hal yang nggak bisa henti dibicarakan. Apalagi di zaman sekarang, di mana rasa-rasanya penyakit semakin banyak dan tak jarang menyerang secara mendadak.

Sebagai seorang Ibu yang notabene juga harus menjadi dokter bagi keluarga, menjaga kesehatan anak dan suami adalah salah satu PR terbesar bagi perempuan.

Itulah kenapa IP Semarang menghadirkan Rumbel Herbal, di sini kita akan belajar bagaimana menjaga kesehatan tubuh menggunakan bahan-bahan yang tersedia dari alam. 


Dipandu oleh mbak Sumarti , para member Rumbel Herbal mengulik tentang kesehatan holistik, berkenalan dengan bahan-bahan alami. Yang pasti jangan lupa minta diajarin totok wajah sama mbak Sumarti yaa.. dijamin bikin tidur nyenyak dan bikin suami tambah jatuh cintaaah.

Rumbel paling banyak dicari dan selalu ramaai.. apalagi kalau bukan Rumbel Co-Bak alias Rumbel cooking dan baking. Kata mbak PJ nya.. di Rumbel ini suka saling tukar resep.. plus tukar masalah. Lo kok? Iya.. maksudnya kalau ada yang punya masalah berhubungan dengan perdapuran, mereka akan saling berbagi solusi. Uduh uduh, romantis ya...

Yang pasti kalau masuk ke Rumbel ini dijamin bakal sering lihat postingan makanan-makanan enak. Di Rumbel ini juga banyak koki-koki handal yang nggak cuma jago masak buat suami dan anak-anak, tapi juga sebagai bisnis.. mantaaap!


Siapa dulu dong PJ nya.. mbak Endriyani DH gitu lo.. a multitalented woman yang nggak cuma jago masak tapi juga jago merajut. Makmin ngiler lah lihat perempuan-perempuan keren di Rumbel ini.. makmin sukanya cuma makan, angkat tangan deh kalau suruh masak 🤣🤣🤣.
 

This is the last Rumbel in IP Semarang. You should speak English here, because it is English Club!
 


Don't worry if you feel your English is very bad, ms. Vanny Martianova as the chief of English Club said "it is okay to make mistakes when learning English. From the mistakes, we can learn how to speak better then."

The aim of English club is to improve every moms of KIP Semarang's skill and confidence, so that they can teach English to their own kids. .
.
Are you interested in learning English with us? The chief of English Club is very professional and has a lot of experience, right now she is working as lecturer in some universities. Wagelaseeeh.. guaranteed you will be able to speak English after joining the club, as long as you want to try and keep learning.

See, I can write sentences in English now because I am one of English Club's members. Although the vocab and structure are still very awful, not too bad, right? 😂😂😂
 

Kamis, 28 Februari 2019

Kenal Lebih Dekat dengan Tim Sejuta Cinta 2019 - 2020



Tim pengurus berikutnya adalah Tim Sejuta Cinta. Yaitu tim yang diamanahi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan sosial. Contoh kegiatan yang pernah dilakukan Tim Sejuta Cinta IP Semarang; menggalang dana untuk korban bencana, membagikan takjil pada warga tak mampu, berjualan pantas pakai dengan sistem bayar semampumu, bertandang ke panti-panti sosial dan yang paling gres sedekah sembako.


Koordinator Sejuta Cinta 2019-2020 dipegang oleh mbak Yuni Artika. Mbak Tika ini sangat kalem dan katanya suka bingung mau ngomong apa, tapi kalau soal sosial selalu maju pertama kali. Karena Mbak Tika tinggal di Slawi, maka tidak bisa selalu kontribusi dalam kegiatan offline yang diselenggarakan di Semarang. Menjadi koordinator Sejuta Cinta menjadi salah satu cara untuk tetap bisa menjalankan mantra Ibu Profesional; berbagi dan melayani.


Dibantu oleh rekannya mbak Farikhah Kusumastuti. Meski kalem, namun mbak Farikhah ini kalau udah dekat bisa muncul aslinya yang juga sangat talkative. Pelaku food combining yang kata beberapa orang mirip Ria Ricis ini baru saja memutuskan menjadi ibu bekerja di ranah domestik setelah sekian lama bekerja di ranah publik. 

Yang pasti tim Sejuta Cinta ini adalah duo kalem yang cantik hati dan cantik paras. Memang ya kalau hobinya berbagi itu adem dilihatnya :)

Kenal Lebih Dekat dengan Tim Keuangan 2019 - 2020



Lanjuut lagi yuk.. Sekarang kita kenalan sama  tim yang berhubungan dengan ngutak-atik anggaran.. bener banget.. apalagi kalau bukan Tim Keuangan!



Kita mulai dengan manajer keuangannya.. ada mbak Nugrahanny Sarsa. Sosok yang tegas dan on point! Cocoklah untuk amanahnya :) Selain aktif sebagai manajer keuangannya IP Semarang, mbak Hanny juga seorang konselor menyusui lo. Jadi buat teman-teman yang punya masalah dengan menyusui, pengen tahu tentang
serba-serbi ASI, cuzz hubungi mbak Hanny.



Lalu ada mbak Prastika Hapsari yang diamanahi menjadi Bendahara Kota. Katanya memang passionnya nyatetin cash flow hehhe.Yang paling diingat dari mbak Tika adalah namanya yang panjaaaaang. Saat ini beliau sedang fokus menjadi apoteker di sebuah apotek, merangkap bisnis online as book advisor dan juga tentunya membersamai buah hati yang sedang aktif-aktifnya.


Ada juga mbak Annisa MKH yang menjalankan divisi usaha, hubungannya sama teman-teman KIP Semarang yang punya usaha dan mau dijual lewat Pasarnya IP Semarang nih :) .

Salam Kenal



Perkenalkan kami
Komunitas Ibu Profesional Semarang, blog ini berisi tentang informasi kegiatan dari komunitas kami juga beberapa artikel berkaitan dengan
women empowerment dan parenting.

Untuk bekerjasama dan informasi lebih lanjut bisa menghubungi kami di ibuprofesionalsemarang@gmail.com.

Popular Posts